29.8 C
Jakarta
Jumat, Februari 3, 2023

Viral Boeing C-17 Globemaster III Mendarat di Bali, Ini 5 Fakta Menariknya

Sebuah video yang memperlihatkan pesawat berbadan lebar mendarat di Bali viral di media sosial. Video yang pertama kali diunggah pemilik akun Instagram @mo.spotting_, memperlihatkan pesawat angkut militer Amerika Serikat, United States Air Force (USAF) Boeing C-17 Globemaster III, mendarat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai jelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20.
Di dalam video yang viral tersebut memperlihatkan detik-detik pesawat berwarna abu-abu, dengan bodi yang sangat lebar tersebut berada sangat dekat dengan sebuah jalan raya yang ada di Bali. Tak hanya itu, tak sedikit para pengendara yang terkesima melihat pesawat kebanggaan militer AS tersebut.
Belakangan diketahui, kehadiran pesawat tersebut disebut sebagai salah satu upaya untuk mempersiapkan kedatangan Presiden AS, Joe Biden, yang akan menghadiri acara puncak KTT G20 pada 15-16 November 2022 mendatang.
Selain daya angkutnya yang luar biasa, Boeing C-17 Globemaster III juga pernah hadir dalam misi-misi penting AS. Tak hanya itu saja, pesawat tersebut nyatanya juga memiliki sederet fakta menarik. Apa saja itu?
Boeing C-17 Globemaster III merupakan sebuah pesawat angkut militer yang dikembangkan oleh militer Amerika Serikat (USAF), bersama dengan Boeing Integrated Defense System. Pengembangan pesawat tersebut dilakukan dari tahun 1980 sampai awal 1990 bersama dengan McDonnell Douglas (yang sekarang telah bergabung dengan Boeing).
Keunggulan Boeing C-17 Globemaster III adalah daya angkutnya yang besar. Kapasitas muatan maksimum C-17 Globemaster adalah 77,519 ton dan berat lepas landas kotor maksimumnya 265,352 ton.
Dengan kapasitas ini, C-17 Globemaster mampu mengangkut hampir semua alat tempur tentara AS, termasuk tank perang utama M1 Abrams, M2/M3 Bradley, hingga 4 helikopter transport UH-60 Blackhawk, atau 2 helikopter serang AH-64 Apache.
Pesawat tersebut juga bisa mengangkut ratusan pasukan bersenjata lengkap, maupun muatan yang akan langsung diterjunkan dari udara.
Sebagai pesawat angkut militer, C-17 Globemaster dinilai efektif untuk mobilisasi angkutan udara cepat ke seluruh penjuru dunia.
Selain daya angkutnya yang besar, Boeing C-17 Globemaster III juga mengadopsi teknologi NASA. Dilansir dari laman resminya, teknologi areonautika yang dikembangkan NASA dalam berapa tahun terakhir juga disematkan di pesawat ini.
Sejumlah teknologi itu diaplikasikan pada desain sayap, teknologi penerbangan atau fly-by-wire, sistem mesin pesawat, hingga bahan material komposit pada strukturnya.
Dalam penerbangan operasional pertamanya pada 1995, pesawat Boeing C-17 Globemaster III memiliki karakteristik yang berbeda dari pesawat-pesawat sebelumnya.
Pesawat tersebut bisa terbang jarak jauh dengan membawa muatan besar dan sistem bongkar muat kargo yang sangat efektif.
Diluncurkan pertama kali pada tahun 1991, produksi pesawat C-17 Globemaster terakhir dilakukan pada tahun 2015. Menurut laman resmi Boeing, selesainya produksi pesawat tersebut ditandai dengan ditutupnya fasilitas pabrik perakitan atau pembuatannya di Long Beach.
Hingga tahun 2014, pihak Boeing telah mengirimkan sekitar 260 unit C-17 Globemaster kepada para pemesannya. Adapun rinciannya adalah 223 buah untuk Angkatan Udara AS, dan 37 buah pesawat lainnya untuk negara lain, seperti Kuwait, Australia, Kanada, India, Inggris, Uni Emirat Arab, dan negera-negara Sekutu NATO.
Setelah lini produksi C-17 Globemaster ditutup, pihak pabrikan Boeing masih menjamin ketersediaan suku cadang, upgrade sistem dan perawatan secara berkala C-17 Globemaster.
Belum diketahui pasti untuk program penggantian pesawat. Hanya saja, jika memang diperlukan, Boeing mungkin akan membuka kembali lini produksinya.
Selain untuk operasi militer, C-17 Globemaster juga efektif untuk misi angkut bantuan kemanusiaan melalui udara. Ketika Taliban berhasil menguasai Afghanistan, pesawat C-17 Globemaster pernah digunakan untuk membantu evakuasi warga Afghanistan yang ingin keluar dari negaranya.
Saat itu, pesawat ini disebut berhasil mengangkut lebih dari 800 orang yang ingin keluar dari Afghanistan. Namun, diperkirakan hanya 600 orang saja yang akhirnya benar-benar bisa terangkut pesawat tersebut.
Walau demikian, pesawat angkut militer C-17 Globemaster diklaim sebagai pesawat kargo paling fleksibel di lingkungan angkatan udara, dan bisa digunakan di segala macam operasi, baik militer ataupun misi kemanusiaan.
Sebagai pesawat kargo paling fleksibel, C-17 Globemaster dikenal dengan kemampuannya yang bisa beroperasi di segala medan, seperti di bandara berlandasan pendek dengan fasilitas seadanya. Hal itu dimungkinkan, karena C-17 Globemaster mengadopsi teknologi aeronautika yang efisien.
Untuk landasan dengan jarak pendek, C-17 Globemaster akan menggunakan “blown flaps”, generator vortex, dan “thrust reversers” (tenaga dorong kebalikan). C-17 bisa beroperasi pada landasan sepanjang 915 m dengan lebar 27,5 m, dan bisa bermanuver berbelok menggunakan “a three-point turn”.
C-17 Globemaster juga mampu lepas landas dari landasan pendek, dan mampu mendarat dengan kecepatan pendaratan yang relatif lebih rendah dibandingkan pesawat lainnya.
Jika kebanyakan pesawat angkut seukuran seperti C-17 Globemaster membutuhkan panjang landasan dua kali lebih panjang untuk lepas landas dan mendarat, C-17 Globemaster hanya membutuhkan panjang landasan yang relatif lebih pendek untuk mendarat.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles