28.5 C
Jakarta
Jumat, Desember 2, 2022

UPNVY Berkomitmen Dukung Ketahanan Energi di Era Transisi

Posisi ketahanan energi di Indonesia mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Produksi minyak dalam negeri terus merosot, sedangkan permintaan selalu meningkat.
Ketua SKK Migas, Dwi Soetjipto mengatakan ketidakseimbangan laju atas ketersediaan energi dengan kebutuhan menjadi penyebab utamanya.
Oleh karena itu, berbagai strategi harus digencarkan. Pihaknya menggandeng Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPNVY) untuk andil ambil bagian di dalam menjaga ketahanan energi.
“Kita tau UPN memiliki kemampuan, pusat pembelajaran di bidang geologi dan kimia yang sudah cukup tua. Oleh karena itu tentu saja akan membangun kapasitas mereka di minyak dan gas sendiri,” kata Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, Sabtu (12/11/2022).
Sebagaimana diketahui, UPNVY merupakan salah satu kampus yang sudah lama berkecimpung di bidang geologi dan kimia.
Dwi menilai, UPNVY memiliki potensi besar yang bisa disumbangsih untuk menyiapkan strategi ketersediaan migas. Apalagi dengan adanya reaktivasi sumur yang sudah lama dilakukan, bisa menambah peluang baru untuk membaharukan energi termasuk migas.
Dengan begitu, hal ini tentu menguatkan dan mewujudkan target Pemerintah yang bertekad untuk menyediakan 1 juta barel di tahun 2023.
“UPN sudah lama melakukan riset dan berkecimpung di dalam mengimplementasikan minyak dan gas. Tentu (membantu) untuk menuju 1 juta barel itu. Kita akan libatkan nanti UPN di dalam mengembangkan strategi ketiga tadi,” ujar Dwi Soetjipto.
Adapun 3 strategi yang akan digunakan untuk menyokong ketahanan energi tersebut antara lain mendorong konversi dari minyak ke gas sesegera mungkin, mendorong peningkatan produksi di minyak dan gas dan mendatangkan investor untuk bisa berinvestasi di bidang ini.
Selain itu, Dwi mengatakan masih ada ratusan cekungan yang bisa digali untuk menyediakan kebutuhan migas. Ia pun kemudian meminta agar mahasiswa UPNVY bisa memanfaatkan peluang ini dengan baik, sehingga Indonesia betul-betul bisa menikmati bonus demografi di tahun 2045.
“Dengan potensi yang besar Indonesia ini, saya minta adik adik mahasiswa untuk semangat belajar dan serius menekuni keilmuan keilmuan yang terkait dengan minyak dan gas ini,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Dekan Fakultas Teknologi Mineral UPNVY, Sutarto mengatakan transisi energi dari minyak ke gas diharapkan menjadi salah satu terobosan penting dalam menopang fondasi ketahanan energi.
“Kalau ketahanan energi, energi harus berlangsung, migas bagian dari fosil, nanti pelan pelan akan kita beralih ke energi hijau atau energi terbaharukan,” kata Sutarto.
Di masa peralihan energi itu, Sutarto menilai bahwa FTM yang terdiri atas jurusan perminyakan, tambang, geologi dan geofisika akan berperan penting untuk mewujudkan ketahanan energi di Indonesia di waktu mendatang.
Sehingga, dengan program magang yang diberikan untuk keenam mahasiswa nya, dapat menjadi ladang mencari ilmu guna mendalami dan mengatasi persoalan migas di Indonesia.
“Itu merupakan ilmu penting yang bisa teman teman dapatkan, salah satunya bisa untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045,” tandasnya. (Maria Wulan)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles