31.4 C
Jakarta
Sabtu, November 26, 2022

Tips dan Untung Rugi Ambil KPR Saat Ada Ancaman Resesi

Ekonomi dunia di tahun 2023 penuh dengan ketidakpastian. Sejumlah lembaga bahkan sudah memproyeksi akan terjadi resesi di tahun depan.
Bank Indonesia (BI) sudah menaikkan suku bunga untuk ketiga kalinya di tahun 2022. Hal itu dilakukan BI untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang terlalu tinggi (overshooting) dan memastikan inflasi inti ke depan kembali ke dalam sasaran 3 persen plus-minus 1 persen.
Meski demikian, secara umum bank-bank akan membutuhkan waktu penyesuaian suku bunga simpanan dan kredit dalam 1-3 bulan ke depan.
Penyesuaian ke dalam bunga kredit juga akan sangat bergantung kepada kualitas kredit di masing-masing bank, sehingga adjustment tidak akan menimbulkan potensi kenaikan NPL ke depannya.
Lantas, apakah masih memungkinkan mengambil KPR di tengah ancaman resesi dan kenaikan suku bunga BI? Perencana keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho, memberikan tips dan pertimbangan ambil KPR saat ada ancaman resesi.
Menurut dia, dalam ekonomi global yang tak pasti dan proyeksi terjadinya resesi, sektor properti akan lesu. Sejumlah developer menawarkan beragam promo yang menarik untuk masyarakat.
Dengan kondisi tersebut, Andy menilai saat ini sebenarnya saat yang tepat untuk membeli rumah dengan memanfaatkan beragam promo dari developer. Namun, tentu harus diperhitungkan juga dari sisi pendapatan.
“Pasar rumah dan properti investasi sekarang cenderung lesu, makanya banyak developer yang menawarkan banyak promo. Ini waktu yang tepat untuk beli properti, lagi banyak promo. Kalau ditunda, akan sulit lagi mencari rumah yang cocok,” kata Andy kepada kumparan, Kamis (27/10).
Menurut Andy, jika sudah menemukan bangunan yang sesuai, lokasi yang strategis, dan harga yang cocok, ada baiknya segera mengambil KPR. Sebab, akan sulit untuk menemukan rumah yang cocok ketika menunda pengambilan KPR.
Hitungan Cicilan yang Aman
Andy menjelaskan, jika merujuk pada peraturan Bank Indonesia, maksimal uang yang harus dikeluarkan untuk membayar cicilan adalah 30 persen dari total pendapatan. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk mencari rumah sesuai dengan kondisi ekonomi masing-masing.
“30 persen itu, kalo kita BI checking, total cicilan kita yang ke-detect di BI hanya boleh 30 persen dari pendapatan. Jadi misalkan kita punya cicilan kendaraan, itu juga masuk dalam hitungan,” jelas dia.
Korbankan Pos Pengeluaran Lain untuk Bayar Cicilan
“Kalau kita ambil sekarang, kita akan menambah pos utang kita. Paling tidak, untuk melewati tahun 2023 yang katanya resesi, kita harus siap-siap mengamankan penghasilan. Tiap kali gajian langsung disisihkan untuk bayar KPR,” tutur dia.
Tak hanya itu, Andy juga menyarankan, untuk mengorbankan pengeluaran lain yang tidak penting. Apabila kamu tidak ingin dana 'senang-senang' dipangkas, mau tidak mau kamu perlu mencari penghasilan tambahan.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles