29.8 C
Jakarta
Jumat, Februari 3, 2023

Radya Kartiyasa, Motif Batik Keraton Yogya di Pameran Kain Indah Sang Raja

Batik-batik koleksi Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman dipamerkan di area Gedung Oval, Taman Pintar, Yogyakarta. Pameran batik yang dibuka pada 28 Oktober ini, akan diadakan hingga 3 November mendatang.
Mengusung tema ‘Adiwastra Narawita’ yang berarti Kain Indah Sang Raja, Keraton Yogyakarta menampilkan koleksi batik Awisan Dalem atau Batik Larangan Keraton Yogyakarta. Batik Larangan berarti motif-motif batik yang penggunaannya terikat dengan aturan-aturan tertentu di Keraton Yogyakarta.
Putri bungsu Raja Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, menyampaikan bahwa ada satu motif batik istimewa yang dipamerkan di pameran batik tahun ini, yakni Radya Kartiyasa. Motif batik ini baru saja diluncurkan oleh Museum Keraton Yogyakarta pada 2 Oktober silam, bertepatan dengan Hari Batik Nasional.
GKR Bendara mengatakan, motif Radya Kartiyasa ini terinspirasi dari flora yang tumbuh di area Regol Danapratapa, dekat Bangsal Srimanganti, Keraton Yogyakarta. Motifnya memiliki pola ceplok menyerupai sekar atau bunga padma.
“Harapannya menjadi sumber ilmu bagi setiap pemakainya,” kata GKR Bendara dalam pembukaan pameran Adiwastra Narawita: Kain Indah Sang Raja, Jumat (28/10).
Motif batik Radya Kartiyasa sendiri khusus digunakan oleh para edukator Museum Keraton Yogyakarta yang telah tercatat secara resmi. Sehingga, pengunjung museum bisa mengetahui mana edukator yang benar-benar legal.
Selain batik motif Radya Kartiyasa, Keraton Yogyakarta juga menampilkan beberapa koleksi Batik Larangan, seperti batik motif Parang dengan berbagai ukuran. Motif batik tersebut memiliki makna sebagai sebuah tangga untuk mencapai kemurnian diri, sehingga seseorang harus memiliki hati yang murni saat mengenakannya.
Ada juga motif Kawung, yang memiliki filosofi perputaran kehidupan yang akan kembali ke titik nol dan kemuliaan yang suci sehingga warna tengahnya adalah putih. Batik larangan tersebut tidak boleh dikenakan saat masyarakat berada di kawasan kompleks Keraton Yogyakarta.
“Tidak semua orang boleh memakai motif batik larangan. Ini berkaitan dengan aspek spiritual maupun makna filsafat yang terkandung dalam motif batik,” ujar GKR Bendara.
Sementara itu, GKBRAY Paku Alam, mengatakan bahwa dalam pameran batik tersebut Kadipaten Pakualaman menampilkan koleksi batik yang dibuat sendiri oleh GKBRAY Paku Alam saat Dhaup Ageng atau prosesi pernikahan putra mahkota. Motif batik itu bernama Surya Mulyarja.
“Surya Mulyarja merupakan manifestasi karakter Batara Surya dan Asthabrata yang berkarakter cermat, dermawan, dan memotivasi murid-muridnya untuk berusaha meraih hidup sejahtera lahir batin,” kata GKBRAY Paku Alam.
Gusti Putri juga mengungkapkan kegembiraannya atas diselenggarakannya pameran batik tersebut. Pasalnya, acara-acara seperti itu menjadi salah satu cara melestarikan batik sebagai salah satu bagian dari kebudayaan Yogyakarta.
Apalagi sejak 2009 batik telah dinobatkan sebagai Warisan Tak Benda oleh UNESCO, dan pada 2014 Yogyakarta sudah dinobatkan sebagai Kota Batik Dunia. Karena itu, dia juga berharap masyarakat bersedia untuk turut melestarikan batik dengan cara menggunakan dan mempelajari nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
“Batik adalah masterpiece warisan budaya, mongo kita sama-sama mengenal batik, tahu motif batik dan makna filosofi yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles