26.1 C
Jakarta
Senin, Desember 5, 2022

Prof Tjandra Bicara World Pneumonia Day: Bukan Sekadar COVID-19

Tanggal 12 November kemarin bukan hanya merupakan Hari Kesehatan Nasional untuk Indonesia, tetapi juga Hari Pneumonia Sedunia, “World Pneumonia Day”. Guru Besar UI Prof Tjandra Yoga Aditama memberikan pandangannya terkait ini.
“Masyarakat kini banyak mengenal pneumonia karena COVID-19, tapi sebenarnya pneumonia merupakan suatu peradangan akut parenkim paru yang dapat disebabkan oleh berbagai jenis bakteri, virus, jamur dan juga parasit,” kata Prof Tjandra dalam keterangannya, Minggu (13/11).
Pada umumnya penyakit ini dibagi menjadi tiga kelompok besar:
1) pneumonia komunitas (community-acquired pneumonia/CAP)
2) pneumonia didapat di rumah sakit (hospital-acquired pneumonia/HAP). Ada juga yg menambahkan kelompok
3) pneumonia terkait ventilator (ventilator-associated pneumonia).
“Pneumonia secara global merupakan penyebab kematian dan kesakitan utama. Selain menyebabkan beban kesehatan yang besar, pneumonia juga menimbulkan beban ekonomi yang signifikan dari biaya rawat inap dan pengobatan yang diperlukan,” tuturnya.
“Kejadiannya cenderung lebih banyak ditemukan pada kelompok usia 55 tahun ke atas,” sambung dia.
Informasi dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menunjukkan bahwa saat ini juga terjadi perubahan dominansi penyebab pneumonia komunitas. Tadinya S. pneumoniae (pneumokokus) merupakan penyebab 90-95% kasus.
Angka ini semakin berkurang seiring meningkatnya penggunaan antibiotik dan vaksinasi pneumokokus, hingga menjadi berkisar antara 5-15% pada beberapa studi terbaru di Amerika Serikat dan sebesar 20-25% dari data studi di benua Eropa.
Penyebab terbanyak pneumonia komunitas lainnya adalah sebagai berikut:
Haemophilus influenzae (7%)
Staphylococcus aureus (4%)
Klebsiella pneumoniae (6%)
Bakteri Gram Negatif lain (4%)
Mycoplasma pneumoniae (8%)
Chlamydophila pneumoniae (7%)
Legionella spp. (3%)
Virus (10%)
Untuk pneumonia di rumah sakit, pada tahun 2020-2021 berdasarkan data dari 8 Rumah sakit besar di Indonesia, telah terjadi pergeseran pola resistensi kuman yang didapat pada sampel sputum dari bakteri gram positif.
“Kemudian menjadi bakteri gram negatif seperti pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter baumannii, dan bakteri enterik gram negatif,” jelas dia.
Salah satu aspek penting pencegahan pneumonia adalah dengan vaksinasi, khususnya pada kelompok rentan seperti lansia dan mereka yang dengan komorbid. Terdapat beberapa vaksin untuk mencegah penyakit infeksi saluran pernapasan dan paru di antaranya adalah vaksin influenza, vaksin pneumokokus, dan vaksin COVID-19.
“Semua pihak perlu memberi perhatian penting agar pneumonia dapat kita kendalikan dengan lebih baik,” tutup eks Direktur WHO Asia Tenggara itu.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles