25.5 C
Jakarta
Minggu, November 27, 2022

Pergulatan Kreator Film Dokumenter: Jadi Videografer Manten Biar Bisa Bikin Film

Memilih jalur film dokumenter artinya mesti siap dengan banyak keterbatasan, salah satunya adalah keterbatasan uang. Tak seperti genre film lain yang lebih populer, jumlah penikmat film dokumenter masih sangat kecil. Segmentasi pasar yang sempit itu membuat pemasaran dan distribusi film dokumenter juga menjadi tantangan tersendiri.
Hal itu disampaikan oleh Direktur Festival Film Dokumenter (FFD) 2022, Kurnia Yudha Fitranto. Dengan segmentasi pasar yang kecil, membuat film-film dokumenter, khususnya di Indonesia belum bisa menjanjikan uang yang besar.
“Jangankan untung, balik modal produksi saja masih susah,” kata Kurnia Yudha Fitranto setengah tertawa saat ditemui di Yogyakarta, Jumat (18/11).
Karena masih sulit untuk menjual film dokumenter ke masyarakat luas, selama ini sumber pendanaan film dokumenter juga masih terbatas pada pendanaan baik dari swasta maupun pemerintah, ada juga yang melalui jalur perlombaan. Tapi selain jalur-jalur pendanaan itu, masih banyak juga kreator film yang mendanai proyek filmnya dengan dana mandiri.
Karena harus mendanai karya filmnya sendiri, menurut Yudha tak sedikit kreator film dokumenter yang harus berdiri di dua kaki. Dalam artian, mereka harus menggarap pekerjaan lain supaya bisa mendapat uang untuk memproduksi film dokumenternya.
“Ada yang bikin profil daerah, dokumenter kebudayaan, bahkan ada yang sampai bikin video manten. Biasanya modus yang sering terjadi seperti itu,” kata Yudha.
Beberapa tahun terakhir, peluang-peluang pendanaan dari pemerintah sebenarnya mulai terbuka. Hal itu menurut Yudha juga menjadi sedikit angin segar untuk para kreator film dokumenter supaya bisa berkarya lebih tenang.
Meskipun model bisnis pendanaan ini bukanlah model yang bisa berkelanjutan. Karena itu, salah satu yang jadi isu utama di FFD 2022 ini adalah mencari jalan bagaimana supaya para kreator film dokumenter bisa menemukan model bisnis yang lebih berkelanjutan.
Kunci supaya model bisnis di film dokumenter berkelanjutan menurut Yudha adalah adanya pasar, dalam artian masyarakat mau membayar untuk menonton film-film dokumenter, seperti halnya mereka mau bayar untuk nonton film-film populer lain.
“Masalahnya, buat nonton aja belum mau, apalagi disuruh bayar. Makanya PR kita sekarang memang bagaimana mengemas film dokumenter ini supaya lebih bisa menarik, karena selama ini kan orang denger dokumenter itu pasti pikirannya udah rumit, berat,” ujarnya.
Karena itu, selain pameran film, FFD tahun ini juga banyak diisi dengan kegiatan-kegiatan seperti diskusi atau workshop yang diisi para pegiat film dokumenter. Tujuannya, selain meningkatkan skill, harapannya juga bisa menemukan cara bagaimana supaya bisa menyampaikan film dokumenter ke masyarakat yang lebih luas.
“Karena selama ini kan film dokumenter kita juga masih kurang variatif. Dengan edukasi-edukasi ini harapannya bisa menambah skill dan pengetahuan teman-teman, termasuk bagaimana membuat film dokumenter ini lebih membumi,” kata dia.
Saat ini, peluang-peluang untuk menjangkau masyarakat luas sebenarnya makin terbuka luas. Salah satunya dengan mulai bermunculan platform-platform berbayar yang bisa jadi jalur distribusi baru film dokumenter, sehingga tak hanya bermain di festival-festival saja.
“Karena untuk bisa menembus bioskop itu hari ini masih sangat sulit, platform-platform OTT itu saya pikir penting dicoba sebagai jalur distribusi yang baru,” ujar Kurnia Yudha.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles