30.9 C
Jakarta
Senin, Agustus 15, 2022

Pasangan Muda Dirikan Sekolah Alternatif di Pedalaman Papua

VOA — 

Sepintas Zakharia Primaditya — alias Adit — dan Putri Kitnas Inesia seperti generasi milineal pada umumnya. Di usia mereka yang 36 tahun, mereka telah mengenyam pendidikan tinggi, akrab dengan teknologi, suka tantangan dan penuh ide.

Adit pernah bekerja untuk sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan menjabat sebagai kepala Sekolah Ob Anggen di Bokondini, Papua. Putri, yang meraih gelar master di sebuah perguruan tinggi di Austria setelah lulus FISIP-UI, pernah menjadi wartawan majalah gaya hidup dan juga bekerja di LSM.

Namun, mereka tidak memilih hidup di tengah hiruk pikuk kota besar, yang bukan tidak mungkin menjanjikan pendapatan besar, dan kehidupan lebih mewah berdasarkan standar umum. Mereka lebih memilih untuk menetap dan menjadi guru sukarela di kawasan pedalaman Papua.

Adit dan anak-anak Kosarek, mementingkan pendidikan yang mengutamakan kearifan lokal.

Adit dan anak-anak Kosarek, mementingkan pendidikan yang mengutamakan kearifan lokal.

Bagaimana kisah mereka sehingga pada akhirnya mendirikan sekolah di kampung Kosarek juga diluar kebiasaan. Mereka menempuh perjalanan berhari-hari dengan berjalan kaki, sebelum akhirnya memutuskan untuk menetap di Kosarek

“Untuk trip pertama, kami jalan kaki 26 hari, melalui 4 distrik dan belasan kampung. Kami kemudian istirahat seminggu, dan kemudian jalan kaki lagi ke daerah selatan. Setelah itu kami merasa, sudah banyak kampung yang kami lalui, dan kami tinggal masuk ke daerah yang kami rasa Tuhan pilih untuk kami. Kami merasa kampung Kosarek adalah pilihan Tuhan untuk kami,” papar Putri.

Kampung Kosarek berlokasi di pelosok Kabupaten Yahukimo, dengan jarak tempuh tujuh hari jalan kaki dari kota terdekat, Wamena. Minimnya infrastruktur membuat kampung itu terpencil dan sulit terjangkau. Sekolah formal sudah belasan tahun tidak beroperasi di sana, sehingga mayoritas anak-anak tidak mengenyam pendidikan.

Putri dan anak-anak Kosarek --Prihatin dengan pendidikan anak-anak pedalaman yang terbelakang. (Doku Putri Kitnas Inesia)

Putri dan anak-anak Kosarek –Prihatin dengan pendidikan anak-anak pedalaman yang terbelakang. (Doku Putri Kitnas Inesia)

Putri menceritakan, ketika ia dan Adit memulai sekolah yang dinamakan Rumah Belajar itu lebih dari tiga tahun lalu, anak-anak di sana tidak fasih berbahasa Indonesia, tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung. Mereka pun akhirnya memutuskan memberikan materi belajar kelas 2 SD untuk anak-anak didik mereka yang sebetulnya sudah berusia belasan tahun.

Adit mengatakan Rumah Belajar adalah sekolah alternatif. Program pembelajaran di sekolah ini berbeda dengan sekolah-sekolah tradisional karena lebih mengedepankan kearifan lokal

“Kami mau memberi kesempatan, memberi ruang untuk belajar, bertumbuh bersama. Saling belajar dengan konteks budaya mereka, kebutuhan mereka. Jadi kami tidak datang dengan mengatakan kami ingin membangun sekolah. Kami datang dengan semangat melibatkan orang-orang lokal. Menjadikan mereka guru yang mengajarkan budaya yang mereka tahu,” kata Adit.

Rumah Belajar, fasilitas terbatas tidak mengurangi semangat belajar (Dok Zakharia Primaditya)

Rumah Belajar, fasilitas terbatas tidak mengurangi semangat belajar (Dok Zakharia Primaditya)

Guru yang dimaksud Adit bukanlah gambaran guru yang dikenal masyarakat pada umumnya. Para pengajar di sana umumnya tidak pernah lulus sekolah dasar atau bahkan ada yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal sama sekali. Mereka adalah orang-orang yang biasa mengajar Sekolah Minggu namun memiliki semangat untuk membagi pengetahuan dan pengalaman hidup. Singkat kata, Adit dan Putri melatih mereka sebelum diterjunkan sebagai guru, dengan memanfaatkan semaksimal mungkin sumber-sumber kearifan lokal.

Tidak heran, di Rumah Belajar, para siswa belajar matematika dengan memanfaatkan cara berhitung khas suku Mek yang menggunakan bagian tubuh. Di sekolah alternatif itu, para siswa juga belajar cara bertani dan berternak yang secara turun temurun dipraktikan warga kampung itu. Untuk mengembangkan kemampuan berbahasa, Adit dan Putri sengaja melakukan pendekatan multi bahasa yang berbasis pada bahasa daerah setempat.

Agustinus Kadepa, koordinator Gerakan Papua Mengajar (GPM) , menyambut positif usaha Adit dan Putri. Apalagi, katanya, apa yang diupayakan pasangan suami istri itu berusaha mengedepankan kearifan lokal.

Berbakti pada kampung halaman. Agustinus Kadepa, koordinator Gerakan Papua Mengajar (GPM) sedang mengajar anak-anak. (Dok Agustinus Kadepa)

Berbakti pada kampung halaman. Agustinus Kadepa, koordinator Gerakan Papua Mengajar (GPM) sedang mengajar anak-anak. (Dok Agustinus Kadepa)

“Bukan ala Jakarta yang kita inginkan. Jadi harus berbasis konteks di Papua supaya tidak luput dari kebiasaan, tidak tercerabut dari budaya yang dimiliki anak-anak itu sendiri. Bagaiman membentuk manusia Papua menjadi benar-benar manusia Papua yang ada di Indonesia. Itu sangat diharapkan,” ujar Agustinus.

GPM pada prinsipnya adalah gerakan para sarjana asal Papua untuk mengajar di kampung asal mereka sebagai wujud dari cinta kampung dan keluarga. Komunitas itu sendiri dibentuk sejak 2013 dan telah tersebar di berbagai penjuru Provinsi Papua. GPM bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan di Papua, terutama di kawasan pedalaman.

Selama lebih dari tiga tahun terakhir, Rumah Belajar menjadi satu-satunya tempat mengenyam pendidikan bagi lebih dari 60 anak di Kosarek.

Apa yang diusahakan pasangan itu sudah menunjukkan hasil. Dua murid mereka yang bernama Yanes dan Yuman berhasil menciptakan puisi dalam bahasa Indonesia Desember lalu. Puisi berjudul “Doaku, Anak Kosarek” itu sempat dibacakan pada perayaan Natal di Kosarek.

Penggalan puisi mereka berbunyi: “Kami anak Kosarek, sudah menerima injil Yesus Kristus, dan firman Tuhan sudah dinyatakan di Tanah Kosarek. Kami sudah menjadi orang percaya, tetapi juga, kami ingin belajar dan sekolah yang tinggi.”

Bagi Adit dan Putri, mengajar di Kosarek seperti menjawab penggilan hati mereka. Putri mengatakan, banyak anak di daerah pedalaman yang membutuhkan pendidikan dan bimbingan, tetapi sayangnya belum banyak orang yang datang menjawab kebutuhan mereka.

Belajar bercocok tanam, para siswa Rumah Belajar diajarkan cara bertani. (Dok Putri Kitnas Inesia)

Belajar bercocok tanam, para siswa Rumah Belajar diajarkan cara bertani. (Dok Putri Kitnas Inesia)

Adit merasakan panggilan yang begitu kuat setelah pada 2015 sempat berpergian ke Yahukimo dan melihat banyak anak di sana belum terjangkau pendidikan. Pada penghujung 2017, ia dan Putri memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri kampung-kampung di Kabupaten Yahukimo untuk mengetahui lebih jauh situasi pendidikan di pelosok Papua sehingga akhirnya tiba di Kosarek.

Seluruh penduduk di Kampung Kosarek beragama Kristen, sehingga setiap pekan mereka mengikuti Sekolah Minggu di gereja. Berbagai kegiatan masyarakat pun dikoordinasikan dengan gereja. Namun, tingkat literasi yang rendah membuat anak-anak itu tidak bisa membaca injil meski telah diterjemahkan ke dalam bahasa Mek, bahasa asli mereka.

Melihat situasi itu, Adit dan Putri meyakini bahwa Kampung Kosarek lah tempat yang ditunjuk Tuhan untuk mereka. Mereka kemudian menyampaikan misi untuk menggerakkan kembali pendidikan di kampung itu kepada misionaris gereja.

“Waktu kami sedang mencari jembatan yang bisa menghubungkan kami dengan masyarakat setempat, kami bertemu seorang misioaris. Kami memperkenalkan diri dan menyampaikan visi kami untuk menggerakkan pendidikan di daerah terpencil, misionaris gereja senang. Bagi mereka, kami adalah pergumulan dan jawaban doa mereka, dan bagi kami mereka juga adalah jawaban dari doa-doa kami,” kata Adit.

Apakah Adit dan Putri berniat hijrah ke daerah lain dan mengembangkan sekolah serupa? Mereka sama-sama menjawab tidak. Namun mereka berharap, apa yang mereka lakukan bisa menginspirasi para pemuda lain untuk melakukan hal serupa di berbagai daerah lain. [ab/uh]

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles