24 C
Jakarta
Rabu, Agustus 10, 2022

Panel Baru WHO Dibentuk untuk Percepat Tanggapan Pandemi di Masa Depan

Dewan Pengurus Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Senin (30/5) sepakat membentuk komite baru untuk membantu percepatan tanggapan WHO terhadap kondisi darurat kesehatan seperti COVID-19.

WHO dikritik terkait penanganan pandemi COVID-19, termasuk kecepatan tanggapannya terhadap kasus-kasus awal yang mungkin telah menyebabkan keterlambatan pendeteksian sehingga berkontribusi pada penyebaran virus tersebut. Sebagian pakar penyakit mengatakan bahwa berbagai pemerintahan di dunia dan WHO harus mengindari terulangnya kesalahan langkah awal dengan penyebaran penyakit lainnya, seperti cacar monyet.

Resolusi yang disahkan dengan suara bulat oleh Dewan Eksekutif beranggotakan 34 orang tersebut, dalam pertemuan tahunan itu disepakati akan membentuk Komite Tetap baru untuk Pencegahan, Kesiapsiagaan dan Tanggapan Darurat Kesehatan guna membantu mengatasi beberapa kekurangan yang dirasakan.

Pertemuan-pertemuan resmi WHO terkadang dilakukan dengan jeda beberapa bulan, namun di bawah inisiatif yang baru, komite baru itu akan langsung melakukan pertemuan setelah direktur jenderal WHO menyatakan Situasi Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (PHEIC) – keputusan yang memicu seruan pendanaan ekstra, langkah-langkah kesehatan masyarakat tambahan serta serangkaian rekomendasi yang ditujukan untuk mengendalikan penyebaran penyakit.

“Ini mungkin salah satu titik terlemah dalam pandemi terakhir ini, di mana negara-negara anggota atau badan pemerintahan tidak memiliki kesempatan untuk berkonsultasi langsung setelah PHEIC pandemi terakhir diumumkan,” kata Clemens Martin Auer dari Austria, yang mengajukan resolusi itu, kepada Dewan Eksekutif.

Ia menambahkan, komite baru itu juga akan melakukan pengawasan terhadap program darurat kesehatan WHO pada hari-hari biasa untuk memastikan program itu layak.

“Saya rasa komite tetap itu akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari arsitektur global baru dalam kondisi darurat kesehatan,” tambahnya.

Amerika Serikat, Uni Eropa, Inggris dan Jepang merupakan beberapa co-sponsor inisiatif tersebut. [rd/em]

    Related Articles

    Stay Connected

    0FansSuka
    5PengikutMengikuti
    0PelangganBerlangganan
    - Advertisement -spot_img

    Latest Articles