28 C
Jakarta
Minggu, Februari 5, 2023

Memahami Kenapa Muncul Fenomena ‘Ngemis Online’ di Media Sosial

Berbagai cara dilakukan beberapa orang untuk memperoleh uang terutama setelah munculnya media sosial. Terbaru viral fenomena 'ngemis online' lewat live sambil mandi lumpur di aplikasi TikTok.
Pengamat media sosial Ismail Fahmi menyebut fenomena ini lahir akibat munculnya keinginan semua orang untuk menjadi influencer di media sosial. Cara yang dilakukan untuk mencapai hal ini adalah dengan membuat konten viral.
“Media sosial khususnya Tik Tok ini telah menimbulkan keinginan orang untuk menjadi influencer. Semuanya ingin menjadi influencer dan untuk jadi influencer, kan, harus menghasilkan viralitas,” ujar Ismail kepada kumparan saat diwawancarai, Rabu (19/01).
Semua konten tanpa memikirkan dampak positif dan negatifnya bagi penonton akan tetap diproduksi selama berpotensi untuk viral. Mulai dari konten lucu hingga berbahaya. Ismail menilai hal ini merupakan awalan keinginan mereka untuk menjadi eksis.
Melihat karakteristik penikmat media sosial di Indonesia, konten viral dapat diperoleh dengan dua cara, yaitu dengan konten yang kontroversial dan menyentuh emosional. Karakteristik ini setidaknya menjelaskan mengapa fenomena ‘ngemis online’ dengan cara mandi lumpur di live TikTok ramai diminati masyarakat Indonesia.
“Kita sudah terlalu dicekokin oleh yang ada di TikTok itu for your page itu isinya konten-konten yang viral, isinya yang kurang mendidik, kebetulan manusia memang sukanya yang kontroversial dan emosional, bukan hal yang mendidik gitu,” jelas Ismail.
Melihat karakteristik penikmat media sosial di Indonesia, konten viral dapat diperoleh dengan dua cara, yaitu dengan konten yang kontroversial dan menyentuh emosional. Karakteristik ini setidaknya menjelaskan mengapa fenomena ‘ngemis online’ dengan cara mandi lumpur di live TikTok ramai diminati masyarakat Indonesia.
Hal ini sekaligus jadi penjelas beberapa fenomena viral yang sempat terjadi. Konten berbahaya seperti saat anak-anak menghentikan truk di pinggir jalan juga konten saat anak-anak membuat konten prank di YouTube.
Meski sering dikaitkan dengan faktor ekonomi, menurut Ismail, hal ini bukanlah penyebab konten tidak mendidik kerap viral. Baik dari kalangan kaya atau miskin, keduanya akan tetap memproduksi konten agak viral dan menggunakan segala sumber daya yang sesuai dengan lingkungan di sekitar mereka.
Misalnya orang kaya membuat konten dengan pamer kekayaan mereka menggunakan pesawat jet pribadi. Sedangkan kalangan lainnya bisa menggunakan hal-hal di sekitar mereka misalnya membuat konten menangkap belut.
“Kalau konten yang viral itu, kan, enggak ada hubungannya itu miskin atau enggaknya. Mereka yang kaya pun sama, kan, basically-nya pengin viral ya,” jelasnya.
Membuat Platform Alternatif
Guna menghadapi tsunami informasi di media sosial dan sulit menghindarkan diri dari konten viral yang tak mendidik, Ismail Fahmi merekomendasikan untuk membuat platform alternatif. Menurutnya, ini bisa menghindarkan anak-anak Indonesia dari algoritma TikTok yang dikontrol oleh artificial intelligence (AI).
Cara ini serupa dengan cara kerja TikTok di China, yaitu pengguna usia 14 tahun ke bawah punya algoritma yang hanya menampilkan konten edukasi dan ilmu pengetahuan utamanya soal astronaut. Hal ini membuat anak-anak di China bahkan punya cita-cita sebagai astronaut, sesuai dengan konsumsi informasi mereka di media sosial.
Ide membuat platform alternatif sudah Ismail sampaikan ke pemerintah. Meski ia memahami bahwa konsumsi media sosial untuk usia dewasa mustahil dikontrol, setidaknya ada upaya untuk membuat pilihan untuk anak-anak.
“Jadi paling tidak ini usulan saya itu ke pemerintah kita bisa bikin alternatif pilihan, mungkin ada bikin TikTok versi Indonesia,” ujar Ismail.
“Di mana itu mengakses data TikTok-nya barangkali kemudian dekorasi dipilih menggunakan secara manual atau redaksi kita memilih konten-konten yang bagus yang educated atau pakai AI bila memungkinkan,” ujarnya.
Fenomena Emak-Emak Mandi Lumpur Ngemis Online di TikTok
Viral fenomena ‘ngemis online’ live sambil mandi lumpur di aplikasi TikTok. Live video itu kadang menampilkan anak muda sampai emak-emak yang rela mengguyur tubuhnya menggunakan air atau lumpur demi mendapatkan koin yang bisa ditukar menjadi rupiah.
Dalam beberapa video bahkan live dilakukan dalam rentang waktu berjam-jam, dari siang hingga malam hari, sampai-sampai tubuh emak-emak yang tersaji dalam bingkai smartphone tampak menggigil kedinginan. Ironisnya, aksi nekat emak-emak mandi ini disebut-sebut karena permintaan anaknya.
Raut wajah dari emak-emak yang mencitrakan penderitaan membuat para penonton iba dan memberikan gift mawar, kacamata, unta, dan masih banyak lagi. Gift yang dikumpulkan ini bisa ditukar dengan uang atau saldo digital.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles