27.3 C
Jakarta
Selasa, Januari 31, 2023

Megawati di HUT Ke-50 PDIP: Bicara Pengkhianat Partai hingga soal Capres

Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri menyampaikan sambutannya di HUT ke-50 PDIP. Ada sejumlah hal yang disampaikan Megawati.
Berikut kumparan rangkum sambutan Megawati di HUT ke-50 PDIP.
Dalam sambutannya Megawati bicara soal kader tak patuhi aturannya.
“Kalau ada anak buah yang sudah di dalam aturan partainya harus sampai tingkat pemecatan, ya, saya teken. Jadi jangan bikin tangan Ibu ini untuk membuat itu (tanda tangan surat pemecatan),” kata Megawati di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (10/1).
Ia kemudian bercerita di era Presiden Jokowi banyak kader yang melanggar peraturan. Bahkan ada yang berkhianat ke parpol.
Oleh karena itu, acara ini dirasa Megawati penting untuk konsolidasi kader-kader PDIP. Jadi, tak ada kader parpol lain yang diundang.
“Ini dengan rasa hormat ke teman parpol lain, ini konsolidasi partai, kangen-kangenan. Dan saya tidak bertemu sama mereka 3 tahunan dan saya mau tahu pasukan saya masih ada atau tidak, ternyata masih ada,” tutur Mega yang mengenakan pakaian berwarna merah dan hitam.
Megawati bercerita santai soal Presiden Jokowi. Dari mulai pencapresan pertama hingga kedua.
“Pak Jokowi … loh iya, padahal Pak Jokowi kalau enggak ada PDIP kasihan, deh. Legal formal, loh. Beliau jadi presiden legal formal diikuti terus sama saya aturan mainnya,” kata Mega dalam pidato politik di acara HUT ke-50 PDIP di Hall A JIExpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (10/1).
Megawati bicara itu sambil tersenyum. Setelahnya ia juga bercerita soal pendamping Jokowi di periode kedua, Ma'ruf Amin.
“Pak Ma'ruf saya minta, kaget Pak Ma'ruf. Dulu sama-sama di BPIP. Setelah itu ada Pak Mahfud MD,” jelasnya.
“Saya bilang gini, Pak Jokowi kalau ini saya izin pendamping [wapres] Bapak, Pak Ma'ruf. Terus Pak Mahfud diambil Menkopolhukam. Kok, aku ora dijupuk (diambil). Tetap aja BPIP. Ya, udah karena saya enggak cari kuasa,” kata Mega disambut riuh hadirin.
Megawati kemudian bercerita panjang sejarah PDIP dalam pengarahan di acara HUT ke-50 PDIP di JIExpo, Jakarta, Selasa (10/1). Di antara yang diceritakan adalah peristiwa Kudatuli.
Kudatuli atau kerusuhan 27 Juli, merujuk pada tragedi 27 Juli 1996 saat kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro 58, Jakarta Pusat yang dikuasai pendukung Megawati.
Saat itu, kantor PDI diserbu massa pendukung Ketua Umum PDI hasil Kongres di Medan, Soerjadi, dibantu aparat dari kepolisian dan TNI. Dalam peristiwa di masa Orde Baru tersebut 5 orang tewas dan seratusan luka.
“Saya itu yang bingungnya gini, kita ini sah, kok, sampai diserang ngopo tho yo? Coba pikir, ayo Pak Jokowi, bingung loh saya. Ini toto coro (tata cara) apa ini? Loh iyalah,”cerita Megawati dalam HUT yang dihadiri Presiden Jokowi.
Saat itu, Megawati dibawa ke kantor polisi kemudian dibawa ke kejaksaan. Megawati lalu protes ke kejaksaan karena diinterogasi dari pukul 08.00 WIB sampai pukul 20.00 WIB. Pertanyaannya hanya diulang-ulang.
“Akhirnya saya bilang, saya, kan, punya suami, punya anak to, Pak. Kalau memang mau ditangkap, sini bacain BAP-nya, terserah apa yang ditulis,” tuturnya.
“Hanya satu saya bilang, saya enggak mau kalau dibilang komunis karena saya enggak pernah ikut,” lanjutnya disambut tepuk tangan kader PDIP. “Nah, gitu dong…,” timpal Mega.
Megawati memperkenalkan dua anak Ketua DPR Puan Maharani di sela-sela pidato politiknya di HUT ke-50 PDIP. Ini kali pertama anak Puan diperkenalkan di hadapan publik.
Kedua anak Puan itu adalah Diah Pikatan Orissa Putri Hapsari dan Praba Diwangkata Caraka Putra Soma.
Keduanya lalu berdiri ketika diperkenalkan Megawati. Mereka berdiri di belakang barisan tamu VVIP, ada Presiden Jokowi dan para menteri.
“Itu ada dua cucu saya, ayo berdiri coba mih, ayo jangan malu. Nih tuh ini putra putrinya Mbak Puan,” kata Megawati.
Megawati menyebut kehadiran cucunya dari Puan dan Hapsoro Sukmonohadi itu ingin melihat seperti apa dunia politik.
“Mereka kenapa mau ikut? Karena katanya mau tahu ah kalau masuk politik gimana. Nanti boleh enggak,” ucap Mega.
Megawati menyebutkan kriteria calon presiden yang diharapkannya dapat memimpin di masa depan. Megawati pun berkelakar, kalau misalnya dia saat ini mau selfie, pasti banyak yang mau.
“Satu, (karena saya ) perempuan, dua cantik, baru dua aja ditepokin [hadirin tepuk tangan]. Tiga karismatik, empat pintar,” jelasnya dalam pidato di Hal A JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Di saat bersamaan, Megawati membandingkan kriteria yang telah disebutkan dengan dirinya,
“Aku tahu-tahu ketiban profesor aja dua. Dokter honoris causa 9, masih nunggu 5 karena pandemi,” lanjutnya
Megawati juga berbagi pengalamannya ketika sering ditanya mengenai harapan terhadap pemimpin Indonesia.
“Aku iki garuk-garuk kepala. Ibu (Mega) itu sudah cantik, karismatik, pintar. Pemimpin masa depan yang Ibu harapkan seperti apa? Kok lu nggak lihat gue, ya, wong jelas-jelas gue,” ceritanya.
Megawati akhirnya menyinggung soal capres yang akan diusung partainya di 2024. Megawati diberi tahu bahwa masyarakat menunggu capres yang akan diumumkan Megawati di HUT ke-50 PDIP hari ini.
“Karena ini yang dituggu-tunggu. Kalau orang main taruhan, udah masang, sing arep diumumke Ibu sopo? Lah.. Ha..ha..,” ucap Megawati disambut tepuk tangan ribuan kader PDIP.
“Ya ntar dulu, emangnya situ tepuk tangan terus (saya) tergiur umumkan? Enggak. Hehe.. Iya, dong,” imbuhnya.
Megawati mengingatkan bahwa dia adalah Ketua Umum PDIP, institusi tertinggi yang diberi kewenangan prerogatif untuk menentukan calon presiden di 2024.
“Hak prerogatif untuk tentukan siapa yang akan dicalonkan. Eh.. Ora ngono kok, engga dah, (capres) urusan gue…,” lanjut Megawati sambil kipas-kipas pakai kertas lalu bertepuk tangan.
Megawati menyinggung capres dalam pidatonya. Megawati awalnya menjelaskan arti Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 bagi Indonesia.
Ia mengatakan, Pancasila dan UUD 1945 harus dijalankan dengan konsekuensi karena telah menjadi kesepakatan bersama.
“Saya ingin apa yang sudah dijalankan itu konsekuen, harus ada kontinyuitas, karena saya sendiri engga bisa tahu kalau nanti buat patokan pemimpin seperti apa yang sekiranya akan ibu pilih,” kata Megawati.
“Kan, saya bilang mungkin saya sudah ada di awang-awang. Jadi sekarang, kalau kita berpegang pada Pancasila karena Pancasila yang mengayomi lalu turun ke UUD 45, itu sudah sepakat dari pimpinan di republik ini,” tambah dia.
Ketua Dewan Pengarah BRIN itu kemudian menyinggung soal Presiden Sukarno yang diangkat menjadi presiden sumur hidup. Hal itu juga yang menjadi pemicu runtuhnya orde lama.
“Ketika Bung Karno jadi presiden seumur hidup, noh mendadak-mendadak gitu, sepertinya terus dibuat kesalahan, dilengserkan ini apa mau gitu terus?” kata Megawati.
“Ini pernyataan saya seorang ibu, ibu rumah rangga dan WNI, apa mau gitu kita? Seperti uji coba terus menerus enggak ada habisnya, kalau sudah 2 kali, ya, 2 kali,” lanjut dia.
Lebih jauh, Megawati menyinggung ketika dirinya mengusung Jokowi menjadi presiden. Menurutnya, Jokowi memang layak karena mempunyai kapasitas yang mumpuni.
“Kalau Pak Jokowi enggak pinter, ngapain saya jadiin kalau engga pinter? Ini orang kan sekarang nunggu,” tutur Megawati.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles