31.5 C
Jakarta
Sabtu, Februari 4, 2023

Megahnya Masjid Sheikh Zayed Solo, Miniatur Sheikh Zayed Grand Mosque Abu Dhabi

Warna putih bersih mendominasi bangunan megah Masjid Sheikh Zayed Solo. Gaya Timur Tengah yang dipadukan dengan budaya Solo menjadi keunikan yang dimiliki masjid ini. Masjid tersebut merupakan simbol persahabatan Indonesia dengan Uni Emirat Arab (UEA).
Putra Mahkota UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan memberikan masjid tersebut sebagai hibah yang diperuntukkan bagi Presiden Joko Widodo. Konsep pembangunan Masjid Sheikh Zayed ini memang murni berkiblat pada salah satu masjid yang lokasinya di Abu Dhabi, UEA.
“Ini adalah hadiah yang diberikan ke presiden kita, Pak Joko Widodo, makanya minta lokasinya di Solo ini. Proses berjalan beberapa bulan, sampai akhirnya Waskita ditunjuk sebagai tender untuk melaksanakan pembangunan masjid yang unik, karena ini merupakan miniatur dari masjid yang ada di Abu Dhabi, ” tutur Direktur Utama Waskita Karya, Destiawan Soewardjono kepada kumparan, Minggu (25/5).
Keduanya pun memiliki nama masjid yang sama. Masjid Sheikh Zayed di Abu Dabhi dalam bahasa Inggris kerap dikenal dengan sebutan Sheikh Zayed Grand Mosque. Dengan total luas wilayah mencapai 12 hektare, masjid tersebut menjadi salah satu masjid termegah di dunia. Dan, ya, kini versi miniaturnya sudah ada di Indonesia.
Lantas, bagaimana sejarah Masjid Sheikh Zayed di Abu Dhabi, UEA dan Solo, Indonesia?
Sheikh Zayed Grand Mosque dibangun pada tahun 1994 dan kembali dibangun pada tahun 2007. Bangunan ini memiliki total luas 290 x 450 meter dengan area keseluruhan lebih dari 12 hektare.
Proyek masjid megah di Abu Dhabi tersebut dicanangkan langsung oleh mantan Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan. Konsep pembangunannya pun mengadaptasi keragaman budaya dunia Islam dari berbagai negara, seperti seni hingga komponen arsitektur.
Tak hanya sebagai sarana beribadah atau destinasi wisata religi, masjid ini juga mengelola pusat pembelajaran pendidikan lintas budaya. Masjid itu dilengkapi berbagai buku klasik dan publikasi. Mulai dari Sains, Kaligrafi, Seni, hingga Peradaban. Koleksinya pun dapat ditemui dalam berbagai bahasa, seperti Inggris, Arab, Spanyol, Italia, Jerman, hingga Korea.
Desain pembangunan Masjid Agung Sheikh Zayed terinspirasi dari Masjid Abu al-Abbas al-Mursi di Alexandria yang dirancang oleh Mario Rossi tahun 1920-an. Selain itu, Masjid Badsashi di Lahore, Pakistan dan arsitektur Persia, Mughal, dan Indo-Islam juga menginspirasi proyek pembangunan masjid megah tersebut.
Kubah-kubah putih yang berjumlah banyak terinspirasi dari arsitektur bergaya Moor dan lengkungan-lengkungan indah yang menghiasi atap diadaptasi dari gaya Arab Klasik. Kolaborasi dari berbagai gaya dan pengaruh seni di seluruh dunia ini sukses memberikan kesan mewah nan megah bagi mereka yang melihat keindahan bangunan tersebut.
Interior Masjid Sheikh Zayed Abu Dabhi terbilang cukup lengkap dan unik. Salah satu karpet yang berada di masjid itu digadang-gadang menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Rancangannya pun dibuat oleh seniman Iran Ali Khaliqi. Total berat karpet dari wol itu mencapai 35 ton dengan ukuran 5.627 meter persegi yang dikerjakan oleh sekitar 1.300 pekerja
Tujuh lampu gantung yang terdiri dari jutaan kristal Swarovski yang menghiasi masjid juga diimpor langsung dari perusahaan Faustig di Munich, Jerman. Lampu tersebut juga tercatat menjadi salah satu yang terbesar di dunia dengan ukuran diameter 10 meter dan tinggi 15 meter.
Keunikan lain terdapat pada 96 pilar yang berada berlapiskan marmer dan mutiara. 99 Asmaul Husna juga secara khusus dirancang oleh ahli kaligrafi terkemuka yang berasal dari UEA bernama Mohammed Mandi Al Tamimi. Kaligrafi tersebut bergaya Naskhi, Thuluth, hingga Kufic.
Jika ditelusuri, desain hingga material bangunan Masjid Sheikh Zayed Abu Dabhi dikonstruksikan untuk jangka panjang. Material impor mendominasi material hingga interior masjid, termasuk batu marble, batu kristal, emas, keramik. Beberapa pengembang dan material bangunan datang dari India, Italia, Jerman, Turki, Maroko, Malaysia, Inggris, Cina, hingga Selandia Baru.
Berbeda dengan masjid yang berada di Abu Dhabi, material bangunan hingga interior Masjid Sheikh Zayed di Solo didominasi oleh produk lokal dibandingkan impor. Hal ini terjadi lantaran kontrak pembangunan masjid yang sangat cepat, yakni hanya 18 bulan.
“Tantangannya juga besar untuk membangun Masjid Muhammad Syekh ini. Pertama dari segi waktu, hanya dalam waktu 18 bulan kami mempunyai kontrak itu. Kenapa 18 bulan? karena pemerintah UAE, kemudian Pak Dubes RI kita yang ada di Abu Dhabi, pemerintah Indonesia dalam hal ini Presiden Jokowi juga menginginkan saat kunjungan Presiden UEA ke Indonesia mengikuti Konferensi G20, masjid ini bisa sekaligus diresmikan,” jelas Destiawan.
Proyek Masjid Sheikh Zayed Solo yang dibangun bersama Waskita Karya in memiliki kapasitas mencapai 10.000 jamaah. Saat itu, pembangunan setidaknya melibatkan 1.000 tenaga kerja lebih. Salah satu material bangunan yang diimpor adalah marmer yang berasal dari Italia dan marmer dinding yang berasal dari Turki. Sisanya merupakan material lokal.
“Selain marmer yang diimpor, itu hampir material yang ada adalah material lokal. Ini yang penting, meskipun ini bantuan dari luar, tetapi penggunaan material lokal ini sangat besar dan ini akan membantu meningkatkan perekonomian di Indonesia, karena yang menikmati juga masyarakat Indonesia, khususnya sekitar Solo ini. Mayoritas yang impor adalah marmer, karena dari owner-nya menghendaki marmer dari Italia untuk lantai, kemudian yang dinding ini dari Turki,” sambungnya.
Pembangunan Masjid Sheikh Zayed di Solo juga menemui sejumlah tantangan. Di antaranya adalah kontrak pekerjaan yang singkat, pandemi, hingga resesi yang terjadi di Turki.
“Proyek ini dimulai sejak 2021, kondisi saat itu adalah kita baru 'selesai pandemi', di mana untuk pengiriman logistik masih sangat banyak kendala, pembatasan impor dan lain-lain. Termasuk di Cina dan negara-negara lain. Jadi memang dengan volume marmer di masjid ini yang mencapai hampir mencapai 40.000 meter persegi, itu menjadi kendala kami sendiri,” jelas Project Manager Waskita Karya, Adriansyah Perdana kepada kumparan, Minggu (25/5).
Meski pengiriman marmer sempat menjadi hambatan, Adriansyah dan tim sukses menyelesaikan persoalan marmer ini dengan tepat waktu. Proses pembangunan masjid oun dapat terealisasi sesuai dengan kontrak kerja yang diputuskan sebelumnya.
“Alhamdulillah itu bisa kita penuhi sesuai pengiriman, itu sampai dengan menjelang akhir Agustus. Pada akhirnya kami hanya tinggal menyelesaikan, karena semua pekerjaan marmer ini dikerjakan di Indonesia. Materialnya saja yang kita impor. Untuk marmer ini ada 2 macam ya, seperti yang kita lihat untuk area Fasad (luar) yang warna putih ini dari Karara, Italia. Sedangkan untuk bagian di dalam area sholat atau main prayer, itu yang warna krem berasal dari Turki. Itu Alhamdulillah bisa kita tuntaskan sampai masa kontrak selesai,” tutur Adriansyah.
Tak berhenti sampai di situ, tantangan kedua dalam proses pembangunan masjid juga ada pada pengadaan karpet. Awalnya karpet memang mau datangkan dari Turki. Namun, perjanjian yang sebelumnya sudah dibuat dengan vendor karpet dari Turki itu harus mendadak dibatalkan, lantaran Turki mengalami resesi.
“Awalnya kita mau datangkan dari Turki. Pada proses pengerjaan proyek ini kami sudah menjalin hubungan vendor-vendor dari Turki, ternyata Turki sendiri mengalami resesi. Kesepakatan-kesepakatan awal yang sebelumnya telah kita capai, akhirnya tidak bisa dipenuhi. Kami menyampaikan ke pihak owner bahwa untuk karpet dari Turki ini tidak memungkinkan, sementara waktu pelaksanaan sudah hampir habis,” jelas Adriansyah.
Tidak menyerah begitu saja, tim pembangunan masjid pun akhirnya memilih Indonesia untuk membuat karpet pesanan tersebut. Mereka percaya bahwa pekerja Indonesia mampu menghasilkan karpet dengan kualitas yang tak kalah dengan standar internasional.
“Kami menyampaikan bahwa produk dari Indonesia bisa dengan kualitasnya internasional. Akhirnya mereka bisa memenuhi itu dengan mengecek pabriknya terlebih dahulu di Bogor, baik desain, sampel pekerjaan, dan hasil pembuatannya mereka pun setuju. Seperti yang kita lihat karpet di belakang ini buatan Indonesia. Walaupun memang, bahan bakunya yaitu wol masih impor, karena standarnya seperti itu yang diminta,” sambungnya.
Selain diproduksi di Indonesia, motif karpet itujuga sengaja dibuat dengan merepresentasikan batik khas Solo. Dilengkapi pula dengan corak-corak kembang dari Pekalongan.
“Seperti informasi yang saya dapatkan dari perencana bahwa karpet itu motif warna cokelat dan krem adalah batik khas Solo. Sedangkan warna biru yang ada pada kembang itu dari Pekalongan. Sehingga kombinasi kedua dari desain tersebut, itu dari perencana menyampaikan bahwa itu hubungan dua negeri. Dalam hal ini adalah Indonesia dengan UAE. Itu kisah dibalik desain karpet tersebut,” kata Adriansyah.
Sementara itu, tulisan Asmaul Husna yang berada di dalam masjid ini disusun secara khusus menggunakan tinta emas yang dibentuk pola kembang bermotif batik. Unsur lokal tak hanya berada di karpet, tetapi penggunaan bahasa Jawa Klasik dalam penunjuk arah atau directory board dilengkapi juga dengan bahasa lokal tersebut.
“Karena masjid ini berada di Jawa Tengah, jadi desainer itu menyiapkan semua penunjuk arah atau directory board menggunakan 3 bahasa. Ada bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa. Dalam hal ini penggunaan bahasa Jawa Klasik itu kan sudah jarang. Jadi diterapkan pada masjid ini seperti itu,” sambungnya.
Masjid ini secara resmi memang belum bisa digunakan oleh masyarakat umum untuk beribadah. Namun, sudah banyak pengunjung ramai-ramai melihat gagah dan indahnya Masjid Sheikh Zayed berdiri.
Salah satu pengunjung bernama Wahyu yang berasal dari Tangerang, misalnya, sengaja berkunjung ke Solo untuk menikmati megah dan indahnya Masjid Sheikh Zayed Solo di tengah masa liburan anak.
“Kalau kita lihat di sini (bagian luar Masjid Sheikh Zayed Solo) sangat luar biasa. Lokasinya juga sangat strategis dekat dengan Stasiun Balapan. Kemudian, secara teritori juga luas sekali. Kalau kita lihat bangunannya juga beda dan unik daripada masjid-masjid yang ada di Indonesia khususnya. Jadi memang untuk bangunannya lebih megah lah kalau ini,” kata Wahyu.
Tak hanya Wahyu yang hanya terkesima dengan kemegahan Masjid Sheikh Zayed Solo, Tati yang berasal dari Wonogiri juga sangat terkesan dengan berdirinya masjid tersebut.
“Di Kota Solo ada masjid semegah ini, bagus sekali kesannya megah. Saya gak nyangka kalau di Kota Solo ada masjid sebagus ini dan seingah ini. Mudah-mudahan segera dibuka, agar bisa digunakan masyarakat buat beribadah,” tutup Tati.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles