25 C
Jakarta
Jumat, Februari 3, 2023

Mahasiswa UK Petra Buat Film Dokumenter Soal Ludruk sampai Masalah Kekeringan

Mahasiswa Broadcast and Journalism, Communication Science, Universitas Kristen Petra baru saja melakukan screening tiga film dokumenter karya mahasiswa. Ketiga film yang ditampilkan mengambil tema utama mengenai sebuah perubahan.
Daniel Budiana selaku dosen pengajar Mata Kuliah Film Dokumenter mengatakan, ketiga film tersebut merupakan proyek ujian akhir semester dari mata kuliah Produksi Film Dokumenter. Masing-masing film dikerjakan secara berkelompok dengan enam mahasiswa di dalamnya.
“Berubah ini sendiri dalam kehidupan manusia menjadi sebuah tantangan yang mau tidak mau harus dialami. Karya para mahasiswa tersebut mencoba menghadirkan tayangan yang menggugah rasa 'berubah' penonton dari berbagai sudut pandang,” ucap Daniel, Sabtu (14/1).
Daniel menambahkan, ketiga film berjudul Lensa Ludruk, Ahad Ijem dan Exist ini sebelum diproduksi, para mahasiswa harus melakukan proses wawancara dan riset terlebih dahulu.
Sebab, mereka harus menampilkan fakta yang terjadi dalam kehidupan dunia nyata terkait film yang ditampilkan.
“Lewat diskusi dan segala masukan diharapkan akan semakin menyempurnakannya. Hadirnya film Dokumenter ini akan memperkaya dan mengingatkan masyarakat untuk terus mendukung dan aware pada perubahan yang terjadi di sekitar kita,” tukasnya.
Sementara itu, Rektor UK Petra Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, berharap film karya mahasiswa ini tidak berakhir untuk menjadi tugas saja, melainkan juga bisa diikutkan dalam festival film.
“Saya berharap karya-karya ini tidak berhenti sampai sini, tapi bisa diikutkan di festival. Sehingga hal baik yang sudah dikerjakan teman-teman ini bisa dinikmati oleh kalangan yang lebih luas dan bisa mendapatkan banyak feedback untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi,” harapnya.
Berikut ulasan dari ketiga film karya mahasiswa UK Petra:
1. Lensa Ludruk
Film yang diproduksi oleh Maria Patricia, Elizabeth Melinda, Cindy Silviana, Levina Natania, Rhaditya Rahutama dan Thessalonica Dwi ini menceritakan kehidupan sebuah komunitas yang mempertahankan kesenian ludruk khas Jawa Timur di tengah gempuran zaman.
“Sesuai dengan judul filmnya, fungsi lensa untuk memfokuskan kesenian ludruk. Seperti yang kita ketahui, minat ludruk ini sangat sedikit. Padahal ludruk merupakan kesenian khas Jawa Timur, dengan adanya film ini maka kesenian ludruk tidak punah di mata anak-anak muda zaman sekarang.”, ungkap Maria yang bertugas sebagai Produser.
Dalam film berdurasi 16 menit ini, Maris bekerja sama dengan komunitas Luntas, sebuah komunitas Ludruk yang mempunyai keinginan memoderinasi kesenian Ludruk agar dapat dinikmati oleh anak millenial.
2. Ahad Ijem
Film berdurasi 18 menit ini bercerita tentang pentingnya masalah pelestarian alam bagi kehidupan manusia. Ahad Ijem sendiri dalam bahasa Inggris dituliskan The Green Sunday, atau dalam bahasa Indonesia mempunyai arti Minggu yang Hijau.
“Kami melihat air dan alam menjadi sumber utama kehidupan dan salah satu bagian Sustainable Development Goals. Kolaborasi dengan komunitas Resan, kami mencoba menelisik lebih Gunungkidul di Daerah Istimewa Yogyakarta yang kerap diberitakan terdampak kekeringan,” ungkap Sentanu sebagai Produser.
Dalam proses pembuatan film, tim beranggotakan Sentanu Chandra, Rachel Oktavia, Steven Petradi, Priscilla Christy, Ferry Shandy dan Helena Genoveva ini menghabiskan waktu 10 hari di Yogyakarta.
Mereka tidak menduga bahwa ternyata perjalanan ke pelosok Gunungkidul sangat sulit, akses jalannya berbatu-batu.
“Ide awal pembuatan film ini saat melihat sebuah pemberitaan di suatu media. Sederhana tapi menarik. Komunitas ini menggunakan cara yang unik dalam usahanya melestarikan alam. Mereka mengadakan gerakan penanaman serta upacara adat setelah bibit pohon ditanam. Kami lebih menekankan ada usaha dalam menghargai alam,” jelasnya.
3. Exist
Exist atau dalam bahasa Indonesia berarti ada. Berdurasi kurang lebih 15 menit, film ini diproduksi oleh Grace Maria Etter, Fedorike Yaphilia, Jennifer Annebeal, Celine Christiara Median Putri, Richard dan Russell Vernoon.
“Kami mengambil lokasi di Desa Gintangan, Banyuwangi, di mana salah satu kerajinan yang masih dihasilkan oleh warga adalah menganyam. Kebetulan ini merupakan salah satu budaya tertua di Indonesia. Tetapi perkembangan zaman yang sudah maju, apakah budaya ini dapat bertahan beberapa tahun ke depan?,” urai Grace.
“Pesan yang ingin kami sampaikan jangan melupakan budaya yang ada meski ada perubahan. Jadi anak muda itu harus mau memajukan Indonesia dengan melestarikan budaya-budaya yang ada,” pungkasnya.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles