25 C
Jakarta
Jumat, Februari 3, 2023

Lonjakan Kasus COVID-19 Buat Rumah Sakit di China Kewalahan: ICU-UGD Penuh

China harus kembali menghadapi lonjakan kasus COVID-19 di penghujung tahun 2022. Kasus harian tembus di atas 1 juta bahkan diprediksi lebih.
Lonjakan kasus harian ini berdampak terhadap situasi di berbagai rumah sakit seperti di Beijing. Jumlah pasien melonjak.
“Pasien berdatangan ke rumah sakit dalam jumlah yang terus meningkat. Hampir semuanya lansia dan banyak yang sangat tidak sehat dengan gejala COVID dan pneumonia,” kata dokter Howard Bernstein yang bekerja di salah satu rumah sakit di Beijing dikutip dari Reuters, Selasa (27/12).
“Saya belum pernah melihat situasi yang seperti ini,” lanjut dia.
Kesaksian dokter Bernstein ini menjadi gambaran betapa buruknya situasi China saat ini akibat kembali dilanda lonjakan kasus COVID-19. Terlebih negara itu mulai melonggarkan pembatasan dalam menekan kasus COVID-19.
“Rumah sakit kewalahan dari atas ke bawah. ICU penuh demikian juga unit gawat darurat, klinik demam, dan bangsal lainnya,” kata Bernstein .
“Banyak dari mereka dirawat di rumah sakit. Mereka tidak membaik dalam satu atau dua hari, jadi tidak ada aliran, dan oleh karena itu orang terus datang ke UGD, tetapi mereka tidak bisa naik ke kamar rumah sakit. Mereka terjebak di UGD selama berhari-hari,” jelas dia.
Padahal, dalam sebulan terakhir, Bernstein mengatakan dirinya belum pernah merawat pasien COVID. Namun situasi saat ini berubah pesat.
“Tantangan terbesar, sejujurnya, adalah saya pikir kami tidak siap untuk ini,” katanya.
Sementara kepala petugas medis di Rumah Sakit swasta Raffles di Beijing, Sonia Jutard-Bourreau, mengatakan jumlah pasien saat ini meningkat lima hingga enam kali lipat dari jumlah normal.
Usia rata-rata pasien telah melonjak sekitar 40 tahun menjadi lebih dari 70 tahun dalam rentang waktu satu tahun.
“Profilnya selalu sama. Sebagian besar pasien belum divaksinasi,” kata Jutard-Bourreau.
Para pasien kebanyakan ingin membeli obat Paxlovid yang merupakan obat bagi pasien COVID-19 yang diproduksi Pfizer. Namun stok obat ini semakin menipis karena permintaan terus meningkat.
“Mereka menginginkan obat itu seperti pengganti vaksin, tetapi obat itu tidak menggantikan vaksin,” kata Jutard-Bourreau.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles