Lampang: Kota Thailand Dengan Pesona dan Tanpa Keramaian

Thailand terkenal di kalangan wisatawan yang suka kehidupan malam di Bangkok, pesta bulan purnama di pulau Koh Phangan, dan jalan-jalan hedonistik di Pattaya. Ini juga menjadi magnet bagi para bohemian dan kebugaran yang berduyun-duyun ke destinasi pegunungan di Chiang Mai dan Pai.

Namun yang paling banyak diabaikan oleh wisatawan asing adalah Lampang, di Thailand Utara. Kota tepi sungai yang sangat menawan dan berpenduduk sekitar 90.000 jiwa ini telah melestarikan arsitektur bersejarah dan alun-alun megah dari masanya sebagai kota besar di kerajaan Lanna kuno dan pusat perdagangan kayu jati. Kuil kayu dari berabad-abad yang lalu dan rumah-rumah jati dua lantai dari akhir tahun 1800-an dan awal tahun 1900-an masih berdiri, dan di sepanjang Sungai Wang, jalan-jalan di daerah kantong Kat Kong Ta bagaikan museum terbuka yang berisi ruko-ruko Tiongkok dan Eropa yang terpelihara dengan baik. bangunan bergaya roti jahe.

Di sekeliling kota terdapat penduduk yang sangat ramah, serta patung dan gambar ayam — mulai dari penutup lubang got hingga lingkaran lalu lintas. Ayam adalah simbol Lampang, dan muncul pada keramiknya, yang terkenal di seluruh Thailand, yang mencakup mangkuk dan cangkir yang dilukis dengan tangan dengan ayam jantan hitam-merah.

Pesona Lampang bukan berasal dari hiburan dan atraksi yang dibangun untuk wisatawan, namun dari penjelajahan bagian integral dari kota yang berfungsi. Ruko telah berkembang menjadi butik dan kafe. Toko pabrik keramik ideal untuk berbelanja oleh-oleh. Bahkan kereta kuda yang berkeliling kota membawa wisatawan pada awalnya menjadi transit utama penumpang kereta api setelah stasiun dibuka pada tahun 1916.