30.9 C
Jakarta
Kamis, Februari 9, 2023

Kriteria Jokowi untuk Presiden ke Depan: Jangan Ciut Nyali

Rezim Presiden Jokowi telah memasuki tahun-tahun terakhirnya. Jokowi menyebutkan kriteria presiden yang ideal bagi Indonesia setelah dia lengser nanti.
Kriteria yang disinggung Jokowi adalah agar presiden Indonesia nantinya berani dan tidak ciut nyali. Hal itu Jokowi katakan dalam konteks membangun hilirisasi dalam negeri yang banyak ditentang negara maju. Berikut kumparan merangkum fakta-faktanya, Rabu (11/1).
Jokowi mengutarakan keinginan agar presiden selanjutnya yang menjadi penggantinya merupakan pemimpin yang berani. Ini disampaikan Jokowi dalam acara puncak HUT ke-50 PDIP, di JIEXPO, Kemayoran, Jakarta, Selasa (10/1).
Harapan tersebut disampaikan Jokowi dengan menyebutkan sejumlah soal yang tengah dihadapi negara. Salah satunya gugatan Uni Eropa ke WTO imbas kebijakan Indonesia melarang ekspor nikel.
Jokowi mengungkap pentingnya nilai tambah dari hilirisasi oleh sebuah negara. Karena menurutnya, Indonesia selamanya akan menjadi negara berkembang bila yang diekspor adalah bahan mentah saja.
Jokowi juga mengungkapkan Indonesia tak akan berhenti melarang ekspor bahan mentah ke negara lain meski saat ini Uni Eropa menggugat Indonesia di WTO karena larangan ekspor nikel. Ia menegaskan, Indonesia akan konsisten menggalakkan industrialisasi dalam negeri.
“Kalau hanya ekspor barang mentah sampai kiamat kita hanya akan jadi negara berkembang,” kata Presiden Jokowi.
Mantan Gubernur Jakarta ini menerangkan, pemasukan negara dari pelarangan ekspor nikel dari Rp 17 triliun menjadi Rp 360 triliun.
Dalam proses membangun hilirisasi, Indonesia mendapatkan tentangan dari Uni Eropa berupa gugatan atas pelarangan ekspor nikel di World Trade Organization (WTO).
Jokowi tegaskan, Indonesia tak boleh mundur karena yang memiliki kekayaan alam adalah Indonesia sendiri.
Saat ini, kekayaan alam yang dimiliki Indonesia tersebar di berbagai wilayah. Sumber nikel banyak di Sulawesi dan Maluku, sementara Timah ada di Belitung dan Bauksit tersimpan di Kalimantan Barat. Semua kekayaan alam ini, kata Jokowi, harus diintegrasikan untuk membangun satu ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
Indonesia telah melayangkan banding atas kekalahan gugatan larangan ekspor nikel oleh Uni Eropa di World Trade Organization (WTO).
Kendati berulang kali menyatakan tak gentar bangun hilirisasi nikel di dalam negeri, Presiden Jokowi mengaku belum tahu bagaimana jalan keluar ketika banding di WTO itu tak dikabulkan.
“Kalau banding kalah, saya gak tahu ada upaya apa lagi yang bisa kita lakukan. Tapi itulah sebuah perdagangan yang kadang-kadang menekan sebuah negara agar mereka ikut aturan mana yang dibuat negara-negara besar,” kata Jokowi

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles