31.4 C
Jakarta
Sabtu, November 26, 2022

Korsel Duga Uji Coba Rudal Korut Alami Kegagalan

Korea Utara kembali menembakkan rudal balistik antarbenua (ICBM) pada Kamis (3/11). Tetapi, Korea Selatan menduga, peluncuran tersebut menemui kegagalan.
Korut memecahkan rekor dengan uji coba senjatanya dalam 24 jam terakhir. Terbaru, Korut menembakkan satu rudal balistik jarak jauh (LRBM) dan dua rudal balistik jarak pendek (SRBM).
Dugaan bahwa LRBM itu adalah jenis ICBM memicu perintah evakuasi bagi penduduk di Pulau Ulleungdo di Korsel. Pemerintah Jepang turut mengumumkan peringatan evakuasi bagi penduduk di wilayah utaranya, yakni Prefektur Miyagi, Niigata, dan Yamagata.
Walau begitu, peluncuran terbesar ini tampaknya tak berhasil. Korsel meyakini, ICBM mengalami kendala dalam tahap kedua pemisahan.
“Peluncuran ICBM Korut diyakini berakhir dengan kegagalan,” jelas militer Korsel, dikutip dari AFP, Kamis (3/11).
Korsel mendeteksi peluncuran satu ICBM dari Distrik Sunan di Korut ke Laut Timur yang juga dikenal sebagai Laut Jepang sekitar pukul 07:40 pagi waktu setempat. Jangkauan rudal ini mencapai sekitar 760 km dengan ketinggian 1.920 km dan kecepatan Mach 15.
Seoul lalu mendeteksi penembakan dua SRBM dari Kota Kaechon di Korut pukul 08:39 pagi waktu setempat. SRBM terbang sekitar 330 km pada ketinggian sekitar 70 km dan kecepatan Mach 5.
“Peluncuran rudal balistik Korut berturut-turut merupakan provokasi serius yang merusak perdamaian dan stabilitas tidak hanya Semenanjung Korea tetapi juga masyarakat internasional,” tegas militer Korsel.
“Militer Korsel akan mempertahankan postur kesiapan yang kuat untuk menanggapi setiap provokasi dari Korut,” tambahnya.
Awalnya, ICBM itu dilaporkan melintas di atas Jepang. Kendati demikian, pengumuman tersebut terbukti keliru. ICBM tak melintasi kepulauan Jepang, tetapi menghilang di atas Laut Jepang.
Korut juga menembakkan hingga 23 rudal yang salah satunya mendarat dekat perairan teritorial Korsel pada Rabu (2/11). Korsel menggambarkannya sebagai invasi teritorial.
Tetapi, Korut menegaskan, rentetan peluncuran ini adalah respons terhadap latihan militer udara terbesar Korsel dan Amerika Serikat (AS) yang akan berakhir pada Jumat (4/11).
Latma semacam itu memantik amarah Korut yang menganggapnya sebagai latihan untuk invasi. Terlebih, latihan 'Vigilant Storm' ini melibatkan ratusan pesawat tempur dari kedua belah pihak.
Korut memperingatkan, AS dan Korsel akan menemui konsekuensi paling mengerikan dalam sejarah bila tidak menghentikannya. AS dan Korsel menduga, peluncuran rudal baru-baru ini akan berakhir dengan uji coba nuklir ketujuh Korut.
“Sangat mungkin uji senjata nuklir taktis akan menyusul. Mungkin segera,” ujar analis dari situs spesialis NK News yang berbasis di Seoul, Chad O'Carroll.
Pernyataan O’Carroll digemakan akademisi studi Korut, Ahn Chan-il. Pasalnya, Korut juga sudah merevisi undang-undangnya untuk memungkinkan serangan nuklir pencegahan pada September.
“Ini adalah acara pra-perayaan Korut menjelang uji coba nuklir mereka yang akan datang,” kata Ahn.
“Uji coba ini juga tampak seperti rangkaian tes praktis untuk peluncuran nuklir taktis Korut,” sambung dia.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles