32.2 C
Jakarta
Kamis, September 29, 2022

Korban Pemerkosaan di Ukraina Menderita dalam Diam

Ketika perang meletus di Ukraina dan berbagai laporan bahwa tentara Rusia menggunakan pemerkosaan sebagai senjata perang mulai muncul ke permukaan, Yulia Sporysh, tidak yakin dia adalah orang yang tepat untuk membantu.

Namun didesak oleh mitra-mitranya di Divchata, sebuah LSM kecil yang terutama menangani pendidikan kesehatan untuk anak perempuan, dia kemudian menyediakan saluran telepon pada bulan April untuk memberikan konsultasi dan mendukung para korban.

Para pejabat Ukraina, termasuk Presiden Volodymyr Zelenskyy menuduh pasukan Rusia melakukan pemerkosaan secara luas dan sistemik dan Divchata siap menerima telepon dari para korban.

Namun setelah tiga bulan perang, telepon jarang berdering.

“Masih ada stigma yang sangat besar. Ada gagasan yang mungkin dibawa oleh para korban pada diri mereka sendiri,” kata Sporysh kepada AFP, menjelaskan mengapa orang mungkin tidak mau melapor.

“Kami mendapat permintaan dari kerabat dan sukarelawan,” tambahnya, “tetapi tidak langsung dari korban.”

Invasi Moskow telah memicu gelombang tuduhan kekerasan seksual yang dilakukan oleh pasukannya di Ukraina.

Zelenskyy mengatakan pada April bahwa pasukan Rusia yang mundur setelah mencoba merebut Ibu Kota Kyiv telah meninggalkan “ratusan” korban pemerkosaan, termasuk anak-anak.

Para perempuan memegang spanduk ketika orang-orang yang melarikan diri dari pabrik baja Azovstal di Mariupol dan kota-kota lain tiba di pusat penerimaan pengungsi di Zaporizhzhia, Ukraina, Selasa, 3 Mei 2022. (Foto: AP/Francisco Seco)

Para perempuan memegang spanduk ketika orang-orang yang melarikan diri dari pabrik baja Azovstal di Mariupol dan kota-kota lain tiba di pusat penerimaan pengungsi di Zaporizhzhia, Ukraina, Selasa, 3 Mei 2022. (Foto: AP/Francisco Seco)

AFP telah berbicara dengan setidaknya satu perempuan di wilayah selatan negara itu yang mengatakan dia diperkosa oleh beberapa tentara Rusia.

Kyiv mengumumkan minggu ini bahwa mereka memulai proses hukum pertama terhadap salah seorang tentara Moskow untuk kekerasan seksual.

Namun, para aktivis yang ditugaskan untuk membantu orang-orang yang hidupnya telah hancur karena pemerkosaan, pertama-tama harus membujuk mereka agar bersedia memecah keheningan.

“Korban, sebagian besar, tidak siap untuk melapor ke penegak hukum dan sebagian dari mereka bahkan tidak siap untuk menerima perawatan medis secara khusus,” kata Yuliia Anasova, pengacara La Strada.

Kelompok hak asasi terkenal itu, yang juga memiliki nomor telepon untuk korban pemerkosaan perang, telah menerima lebih dari selusin panggilan telepon terkait 17 orang korban – termasuk satu orang laki-laki.

Setiap orang yang menghubungi mengatakan bahwa mereka diperkosa oleh tentara Rusia, kebanyakan di rumah mereka sendiri, katanya, tetapi hanya tiga yang mengajukan pengaduan resmi. [lt/uh]

    Related Articles

    Stay Connected

    0FansSuka
    5PengikutMengikuti
    0PelangganBerlangganan
    - Advertisement -spot_img

    Latest Articles