31.5 C
Jakarta
Sabtu, Februari 4, 2023

Kisah Pejuang Kemerdekaan dalam Film Musikal Hero

Penulis: Lee Kyoung Mi dan Wartawan Kehormatan Noriko Ohkusa

Video: Saluran YouTube resmi CJ ENM Movie

“Hidup Korea! (Корея Ура!)”

26 Oktober 1909 di Stasiun Harbin, Tiongkok. Ahn Jung-geun meneriakkan ungkapan tersebut setelah menembak Ito Hirobumi. Ito saat itu adalah residen jenderal Jepang di Korea dan pelopor penjajahan Jepang ke Semenanjung Korea. Ahn berteriak dalam bahasa Rusia karena saat itu menteri keuangan Rusia dan beberapa wartawan Rusia hadir di sana.

Film Hero adalah sebuah film musikal yang menggambarkan setahun terakhir kehidupan Ahn, mulai dari saat dia mempersiapkan rencana penembakan di Harbin hingga saat dia wafat karena dihukum mati oleh pengadilan Jepang. Film ini dibuat berdasarkan teater musikal dengan judul yang sama. Film dan teater musikal ini mampu menarik pengunjung karena tokoh utamanya merupakan tokoh bersejarah dan musiknya yang menarik.

Korea.net dan wartawan kehormatan bagian bahasa Jepang, Noriko Ohkusa menghadiri pemutaran perdana dan konferensi pers film Hero yang digelar pada tanggal 8 Desember lalu di CGV Yongsan I Park Mall, Yongsan-gu, Seoul. Film ini merupakan film yang mungkin sulit diterima oleh masyarakat Jepang, tetapi Ohkusa menyampaikan ceritanya setelah menonton film tersebut.


Salah satu adegan dalam film Hero yang menggambarkan saat Ahn diadili bersama dengan rekan-rekannya. (CJ CNM)

Salah satu adegan dalam film Hero yang menggambarkan saat Ahn diadili bersama dengan rekan-rekannya. (CJ ENM)

Film-film yang mengisahkan masa penjajahan Jepang hingga kemerdekaan suatu negara dari Jepang disebut sebagai ‘film anti Jepang’ di Jepang. Banyak film anti Jepang yang tidak diputar di Jepang. Bagaimana perasaan masyarakat Jepang saat mendengar sebuah film yang berkisah tentang setahun terakhir kehidupan Ahn Jung-geun?

Film Hero dimulai dari adegan saat Ahn dan aktivis-aktivis kemerdekaan lainnya bertekad untuk mewujudkan kemerdekaan Korea walaupun harus menyerahkan hidup mereka untuk itu. Kemarahan, kesedihan, dan tekad mereka akibat penjajahan tersebut diungkapkan melalui lagu-lagu di sepanjang film tersebut.

Setelah itu, adegan berubah menjadi saat Ahn berkumpul bersama keluarganya di kampung halamannya. Adegan tersebut menunjukkan hal yang kontras antara kehangatan keluarga dan tekad Ahn. Penonton bisa melihat seorang ibu yang memeluknya sambil tersenyum untuk anaknya yang berjuang bagi kemerdekaan negara. Tak hanya itu, digambarkan pula seorang istri yang tidak bisa memahami kenapa suaminya harus pergi meninggalkannya. Adegan inilah yang membuat penonton bisa memahami Ahn sebagai seorang manusia.

Setelah penandatanganan Perjanjian Jepang-Korea 1905 yang mencabut kedaulatan Korea dan mengubah status Korea menjadi protektorat Jepang, Ahn membangun sekolah Samheung dan Doneui untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Korea. Pada tahun 1908, ia memimpin para aktivis kemerdekaan untuk melawan Jepang. (Independence Hall of Korea)

Setelah penandatanganan Perjanjian Jepang-Korea 1905 yang mencabut kedaulatan Korea dan mengubah status Korea menjadi protektorat Jepang, Ahn membangun sekolah Samheung dan Doneui untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Korea. Pada tahun 1908, ia memimpin para aktivis kemerdekaan untuk melawan Jepang. (Independence Hall of Korea)

Ohkusa mengatakan, “Walaupn sebagian besar masyarakat Jepang tidak mengetahui siapa itu Ahn Jung-geun, tetapi tidak ada hal baik mengenai dirinya yang dikenal oleh masyarakat Jepang. Kami tidak tahu hal lain mengenai Ahn kecuali bahwa dialah aktivis kemerdekaan yang membunuh Ito Hirobumi. Kami juga tidak belajar apa-apa mengenai dirinya dalam pelajaran sejarah di sekolah. Saya akhirnya tahu sedikit mengenai dirinya melalui film ini.”

Ahn digambarkan sebagai sosok yang berjuang tanpa henti demi kemerdekaan Korea bersama dengan rekan-rekannya. Film ini bisa dianggap sebagai film yang serius dan berat. Akan tetapi, ada berbagai adegan yang diambil di Jepang, Tiongkok, dan Latvia sehingga visualnya terlihat menakjubkan dan indah. Selain itu, alur film yang cukup ringan membuat penonton tidak bosan untuk melihatnya. Selain itu, ada pula beberapa adegan humor yang terselip di dalam film.

Ohkusa mengungkapkan, “Sebagai orang yang berasal dari negara pelaku penjajahan, saya menjadi lebih memahami fakta dan makna sejarah. Jepang harus memikirkan kembali hal-hal yang dilakukan di masa lalu.”

Ia melanjutkan, “Hal yang dirasakan setiap orang saat menonton film ini tentu saja berbeda. Akan tetapi, saya merasakan kepercayaan diri mereka untuk menjaga cinta kasih dan hidup yang berharga dalam perdamaian dan kebebasan. Tak hanya melalui introspeksi akan kesalahan yang dilakukan negara di masa lalu, akan tetapi saat ini kita bisa menambah kepercayaan diri kita untuk melakukan hal-hal kecil seperti memberikan suara kita untuk menghentikan perang dan kekerasan.”

Penayangan perdana dan konferensi pers untuk film Hero diadakan pada tanggal 8 Desember di CGV Yongsan I Park Mall, Yongsan-gu, Seoul. Sutradara Yoon Je-kyoon (keempat dari kanan), Aktor Jung Sung-hwa (kedua dari kanan) dan para aktor lainnya hadir dalam acara ini. (CJ ENM)

Penayangan perdana dan konferensi pers untuk film Hero diadakan pada tanggal 8 Desember di CGV Yongsan I Park Mall, Yongsan-gu, Seoul. Sutradara Yoon Je-kyoon (keempat dari kanan), Aktor Jung Sung-hwa (kedua dari kanan) dan para aktor lainnya hadir dalam acara ini. (CJ ENM)

Para aktor memilih untuk merekam adegan mereka dalam menyanyikan lagu secara langsung saat syuting film Hero. Jung Sung-hwa telah berakting sebagai Ahn sejak penampilan perdana teater musikal Hero tahun 2009.

“Saya sedikit merasa kesulitan untuk mendapatkan emosi yang diperlukan karena saya terlalu khawatir suara saya fals saat bernyanyi di depan kamera. Sedikit sulit untuk mencari keseimbangan saat itu,” ujarnya.

Jung menambahkan, “Walaupun judul film ini adalah Hero (pahlawan), saya berusaha sebisa mungkin agar tidak mengungkapkan tokoh pahlawan yang terlalu biasa. Saya berharap bisa menyampaikan (Ahn) sebagai seorang manusia biasa, apa adanya.”

Setelah penayangan perdana selesai, Sutradara Yoon Je-kyoon ikut hadir dalam konferensi pers. Yoon berkata, “Melalui film ini, Anda bisa melihat kisah setahun terakhir kehidupan Ahn sebagai seorang aktivis yang tidak diketahui oleh banyak orang. Selain itu, Anda juga bisa melihat aktivitas para aktivis kemerdekaan yang memberikan hidupnya bagi negara.”

Film Hero yang dirilis pada tanggal 21 Desember telah ditonton 804.747 orang pada jam tujuh pagi tanggal 26 Desember.

[email protected]

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles