25 C
Jakarta
Rabu, Agustus 10, 2022

Keutamaan Mengumandangkan Azan Pada Jenazah, Seperti yang Dilakukan Ridwan Kamil Pada Emmeril Kahn Mumtadz

Suara.com – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bersyukur bisa memandikan dan mengadzani jenazah putra sulungnya, Emmeril Khan Mumtadz alias Eril yang berhasil ditemukan di Bendungan Engelhalde Kota Bern, Swiss pada Rabu pagi (8/6) waktu setempat.

Rasa syukur itu diungkapkan Ridwan Kamil dalam unggahan akun instagramnya @ridwankamil pada Jumat (10/6).

“Alhamdulillah, akhirnya Allah SWT memberikan kesempatan saya untuk kembali memeluk, membelai dan memandikan anak saya sesuai syariat Islam, juga mengazankan dengan sempurna di telinganya persi8s seperti saat Eril lahir,” tulis Ridwan Kamil.

Orang nomor satu di Pemerintah Provinsi Jawa Barat ini juga bersaksi bahwa jenazah putranya masih utuh dan wangi daun eucalyptus, meski sudah lewat dari 14 hari.

Baca Juga: Ini Lokasi Pemakaman Emmeril Kahn Mumtadz Setelah Ditemukan di Bendungan Engehalde

“Dan masya Allah. walau sudah lewat 14 hari, jasadnya masih utuh lengkap tidak kurang satu apapun, wajah rapih menengok ke kanan dan saya bersaksi, jasad Eril wangi seperti wangi daun eucalyptus. Sungguh mukjizat kecil yang sangat kami syukuri,” katanya.

Azan dan iqamah memang termasuk syiar umat Islam dan disunnahkan mengumandangkannya ketika masuk waktu shalat.

Dilansir NU Online, azan dan iqamah juga sunnah dikumandangkan ketika seorang bayi dilahirkan. Tidak hanya itu, mayoritas masyarakat Indonesia, seperti Ridwan Kamil juga mengazankan orang yang telah meninggal, baik setelah dimandikan maupun hendak dikuburkan.

Lantas sebenarnya, bagaimana hukum mengazankan jenazah dan apa keutamaannya?

Ada ulama yang mengatakan, azan dan iqamah disunnahkan ketika menguburkan mayat. Kesunnahan ini disamakan (qiyas) dengan kesunnahan mengazankan anak yang baru lahir.

Baca Juga: Ridwan Kamil Diperkirakan Tiba di Indonesia Minggu, Bakal Makamkan Jenazah Eril di Cimaung

Akan tetapi, menyamakan hukum mengazankan mayat dengan bayi yang baru lahir ini dianggap lemah oleh ulama lain. Syekh Ibrahim al-Baijuri dalam Hasyiyah al-Baijuri menjelaskan:

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles