23 C
Jakarta
Jumat, Februari 3, 2023

Kenapa Makin Banyak Orang yang Bisa Hidup Melewati Usia 100 Tahun?

Orang tertua sedunia asal Prancis biarawati Lucille Randon atau dikenal sebagai Suster Andre, meninggal pada 17 Januari di usia 118 tahun.
Diskusi mulai mengemuka tentang siapa yang akan mewarisi rekornya yang diakui oleh Guinness World Book of Records. Salah satu yang masuk daftar, dan usianya sudah diverifikasi adalah Maria Branyas Morera dari Amerika Serikat. Ia akan memasuki usia 116 tahun pada Maret mendatang.
Di antara pria, rekor orang tertua masih dipegang oleh Juan Vicente Mora dari Venezuela dengan usia 113 tahun,
Tapi satu hal yang pasti: rekor ini masih jauh dari posisi aman.
Dalam beberapa dekade terahir, jumlah orang yang menjadi centenarian (orang yang berusia 100 tahun atau lebih) terus berkembang.
Divisi Populasi PBB memperkirakan bahwa lebih dari 621.000 orang berusia sedikitnya 100 tahun hidup di seluruh dunia pada 2021. Jumlahnya diperkirakan akan melampaui satu juta jiwa pada akhir dekade ini.
Pada 1990, hanya ada 92.000 orang yang mampu mencapai usia satu abad.
Angka harapan hidup manusia saat ini telah berkembang pesat berkat kemajuan di dunia medis, makanan, dan kondisi hidup jika dibandingkan dengan nenek moyang kita.
Rata-rata orang yang lahir pada 1960, dapat berharap bisa hidup sekitar 52 tahun. Tahun kelahiran tersebut yang mulai dihitung PBB secara global.
Tapi bisa mencapai usia satu abad bukanlah prestasi biasa saja: Orang yang mencapai usia tersebut hanya ada 0.008% dari total populasi dunia di tahun 2021, menurut laporan PBB.
Rata-rata angka harapan hidup sekarang berada di sekitar usia 73 tahun, menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), tapi angka ini berbeda-beda dari satu negara dengan negara lainnya. Misalnya di Jepang, rata-rata penduduknya bisa hidup hingga usia 85 tahun, sementara di Republik Afrika Tengah angka harapan hidupnya rata-rata hanya 54 tahun.
Selain itu, banyak orang yang mencapai usia tua kemungkinan akan terserang penyakit kronis.
“Hidup lebih lama bukan berarti sama dengan hidup dengan baik,” kata Janet Lord, seorang profesor biologi sel imun di Universitas Birmingham di Inggris.
Professor Lord menjelaskan secara rata-rata, pria menghabiskan 16 tahun terakhir mereka dengan urusan kondisi kesehatan, dari diabetes hingga demensia. Bagi perempuan, penyakit seperti ini jamak ditemui di 19 tahun terakhir mereka.
Hidup melewati usia 100 tahun bahkan lebih sulit. Di Amerika Serikat, sebuah penelitian jangka-panjang oleh Universitas Boston mengestimasikan bahwa hanya satu dari lima juga warga AS mampu mencapai tahap “super centenarian” – hidup setidaknya 110 tahun.
“Super centenarian” secara alami menarik banyak perhatian dari para ilmuwan untuk mempelajari penuaan pada manusia.
“Mereka melawan teori terhadap apa yang terjadi pada banyak orang di usia tua. Dan, kami belum yakin mengapa itu bisa terjadi,” tambah Professor Lord.
Selain umur panjang, super centenarian sering kali menonjol karena kesehatannya yang relatif baik di usia mereka. Satu contohnya adalah Josefa Maria da Conceicao seorang pensiunan buruh perkebunan yang pada Februari 2022 menurut keluarganya berulang tahun ke-120 – usianya belum disahkan oleh tim Guinness karena masalah dokumentasi.
Menurut putrinya, Cicera, perempuan tua itu tidak perlu meditasi rutin dan masih makan daging merah dan makanan yang manis-manis.
Memang, ingatannya kabur, dan penglihatannya memburuk, tapi Cicera mengakui terkadang masih bingung dengan kondisi ibunya.
“Dia tak bisa berjalan seperti sedia kala, dan kami harus mengangkatnya, dan menggantikan popoknya seperti seorang bayi. Tapi saya masih kagum karena ibu punya umur panjang bagi seseorang yang merokok sejak kecil, dan bekerja keras sebagai buruh selama puluhan tahun,” kata Cicera yang kini berusia 76 tahun.
Yang lebih membingungkan para peneliti adalah, beberapa orang yang mencapai usia 100 tahun atau lebih tidak semuanya punya praktik kesehatan yang baik.
Josefa Maria merokok sepanjang hidupnya, dan baru berhenti pada 2020. Dia juga tumbuh di lingkungan miskin di Brasil yang secara sosial terbelakang, di wilayah bagian timur laut.
Suster Andre juga diketahui minum segelas anggur setiap hari.
Lebih mengejutkan lagi, penelitian di Journal of the American Geriatric Society yang fokus pada lebih dari 400 orang Yahudi di AS berusia 95 tahun atau lebih, ditemukan lebih banyak lagi kebiasaan tidak sehat pada mereka. Penelitian ini dipublikasi pada 2011.
Hampir 60% subjek yang diteliti adalah perokok berat, setengah dari mereka mengalami obesitas sepanjang hidup dan hanya 3% yang vegetarian. Banyak yang bahkan tidak berolahraga ringan.
“Hal pertama yang perlu kami sampaikan kepada orang-orang yang ingin panjang umur, agar tidak mengikuti gaya hidup dari para centenarian atau super centenarian tersebut,” kata Richard Faragher, seorang professor biogerontologi di Universitas Brighton, Inggris, yang juga memimpin penelitian tentang penuaan manusia ini.
“Ada sesuatu yang luar biasa mengenai mereka. Karena mereka benar-benar melakukan sesuatu yang berlawanan dari apa yang kita ketahui tentang cara membantu seseorang berumur panjang,” tambah Fargher.
Para ilmuwan menduga bahwa faktor genetik memainkan peran besar pada umur panjang manusia.
Centenarian (dan super centenarian) nampaknya mampu melindungi diri dari tekanan yang memengaruhi kelompok yang lebih muda seiring berjalannya waktu. Mereka juga nampaknya mampu mengkompensasi kebiasaan hidup tidak sehat – yang bisa mengirim kita ke liang lahat.
Para ahli seperti Lord dan Farragher sedang bekerja untuk mengidentifikasi keunggulan genetik yang diduga dimiliki orang-orang ini, yang mungkin tidak sejelas yang dipikirkan orang.
Penelitian lainnya terhadap centenarian Yahudi, yang dipublikasi pada 2020, menunjukkan bahwa mereka memiliki banyak varian genetik yang buruk – yang dapat menyebabkan penyakit di usia lanjut – seperti pada populasi umum.
Meningkatnya jumlah orang yang mencapai usia 100 tahun juga membuat para ilmuwan bertanya apakah batas umur manusia, bisa juga diperpanjang.
Sampai saat ini, orang paling tua sedunia yang terverifikasi adalah Jeanne Calmet asal Prancis. Ia meninggal pada 1997 di usia 122 tahun, dan satu-satunya manusia yang diketahui bisa hidup melampaui 120 tahun.
Tapi para peneliti dari Universitas Washington di Amerika Serikat mengklaim bahwa umur yang sangat panjang akan mencapai rekor dalam abad ini – dan mungkin saja akan ada orang yang merayakan ulang tahun di usia yang ke-125 atau bahkan 130 tahun.
“Kami hampir pasti meyakini bahwa seseorang akan memecahkan rekor terbaru usia tertua pada tahun 2100, dan sangat mungkin orang bisa hidup hingga umur 126, 128, atau bahkan 130 tahun,” kata Michael Pearce, seorang ahli statistik sekaligus salah satu penulis penelitian ini.
Pearce dan Professor Adrian Raftery menggunakan basis data usia manusia internasional untuk mensimulasikan batas usia pada dekade berikutnya. Mereka menyimpulkan bahwa ada kemungkinan hampir 100% rekor Calmet akan dipatahkan, dan kemungkinan 68% seseorang akan merayakan usia yang ke-127 tahun.
Namun, masih terdapat banyak pertanyaan yang harus dijawab sains untuk mengetahui sepenuhnya teka-teki penuaan.
Para ahli seperti Dr Richard Siow, direktur Riset Penuaan di King's College London, meyakini bahwa pemahaman ini sangat penting untuk mengatasi kualitas hidup dengan populasi global yang semakin panjang umur – PBB memperkirakan bahwa dunia dihuni lebih banyak orang usia 65 tahun atau lebih dibandingkan anak balita.
“Pertanyaan terbesar di sini adalah bukan untuk membahas seberapa lama kita bisa hidup, tapi bagaimana kita bisa menunda timbulnya penurunan kondisi terkait usia, dan tetap sehat lebih lama dari sekarang,” jelas Siow.
“Dengan begini, bila kita cukup beruntung untuk mencapai usia tua, kita bisa menikmati masa-masa itu, alih-alih menderita.”
Organisasi seperti HelpAge International, sebuah jaringan LSM yang memberi dukungan kepada orang-orang usia lanjut di seluruh dunia, menunjukkan bahwa filosofi tersebut sangat penting untuk membantu mengatasi populasi yang menua. Ini harus dilihat sebagai peluang ketimbang beban pada sistem kesehatan dan kesejahteraan.
“Pandangan fatalistik yang bicara tentang penuaan sebagai masalah, ini tidak tepat,” kata juru bicara HelpAge, Eduardo Klien.
*Josue Seixas ikut berkontribusi dalam artikel ini.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles