31.1 C
Jakarta
Kamis, Desember 1, 2022

Kemenag Jabar: Sekarang Banyak Tokoh yang Tiba-tiba Jadi Panutan

Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Barat Ajam Mustajam bakal mempersiapkan pembentukan kader moderasi milenial di Jawa Barat untuk dapat menciptakan generasi yang lebih toleran dalam membangun bangsa.
Seiring dengan perkembangan teknologi, Ajam menilai generasi milenial kini acap kali mempelajari agama dari media sosial. Imbasnya, marak tokoh yang tiba-tiba saja dijadikan panutan oleh generasi milenial sedangkan pemuka agama yang sudah belajar puluhan tahun di pesantren malah disalahkan.
“Sekarang ini zaman digital, zaman internet, yang segala sesuatu bisa didapat dari handphone, kadang belajar agama juga dari konten Youtube dan media sosial sehingga banyak tokoh yang tiba-tiba menjadi panutan, sementara kiai yang mesantren puluhan tahun disalah-salahkan,” kata Ajam.
Hal ini disampaikan Ajam dalam acara “Sosialisasi Penguatan Moderasi Beragama Angkatan III Tahun 2022” di Hotel Sutan Raja, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, pada Jumat (11/11).
Ke depan, Ajam berharap pemahaman nilai agama di masyarakat terutama generasi milenial bakal semakin baik. Dengan begitu, situasi keagamaan di Indonesia juga bakal semakin damai dan menghargai antar sesama.
“Sehingga Indonesia bisa makin damai dan saling menghargai antarsesama anak bangsa yang sangat majemuk dan beragam latar belakang budayanya itu,” ucap Ajam.
Sementara, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Tubagus Ace Hasan Syadzily yang hadir pada acara yang sama mengatakan, pandangan agama sektarian atau cara pandang dalam beragama yang gampang menyalahkan orang lain merupakan buah dari fanatisme yang berlebihan. Hal itu dinilainya rentan menimbulkan konflik.
Ace pun menyebut sikap sektarian tak hanya terjadi antaragama tapi juga intraagama. Dengan begitu, kata dia, pemahaman moderasi agama menjadi begitu penting. Hal itu dinilainya dapat jadi jalan untuk memecahkan berbagai persoalan terkait kerukunan umat beragama. Dalam pandangan moderasi agama, tak ada dominasi mayoritas ataupun minoritas.
“Sebab bagi negara bangsa, seperti Indonesia, semua pemeluk agama sama dan setara di muka hukum,” kata Ace yang juga Ketua DPD Partai Golkar Jabar.
Ace menambahkan bahwa yang dimaksud dengan moderasi agama adalah memoderasi pemahaman dan pengamalan beragama.
Dia kemudian mencontohkan terkait proses mempelajari agama yang belakangan ini bergeser. Bila sebelumnya belajar agama dilakukan ke kiai secara langsung, kini belajar agama hanya melalui media sosial.
“Konten-konten keagamaan radikal dan ekstrem menjadi mudah dikonsumsi tanpa konsultasi dengan otoritas keagamaan tradisional. Populisme agama kemudian menjalar pada aspek politik. Bahkan sebagian anak-anak kita terpapar radikalisme,” kata dia.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles