26 C
Jakarta
Kamis, Februari 9, 2023

Jaksa Sebut Putri dan Yosua Selingkuh, Pengacara Sambo Meradang

Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyimpulkan bahwa tidak ada pelecehan seksual terhadap Putri Candrawathi di Magelang. Adanya, perselingkuhan antara Putri Candrawathi dan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat.
Ucapan jaksa dalam pembacaan tuntutan terdakwa Kuat Ma'ruf di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (16/1), itu membuat pengacara Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi meradang.
Kuat dituntut 8 tahun bui.
“Kami sangat sayangkan tuntutan JPU yang disampaikan hari ini. Asumsi-asumsi yang dimunculkan di dakwaan diperparah dengan tuduhan tidak berdasar apa yang didakwakan kepada terdakwa,” kata Arman Hanis, kuasa hukum Putri Chandrawathi dan Ferdy Sambo, dalam pernyataannya.
Arman menilai, tuntutan jaksa bersifat asumsi, hanya didasarkan pada poligraf yang cacat hukum dan bertentangan dengan dua alat bukti yang muncul di sidang.
“Hasil pemeriksaan psikologi forensik tersebut yang ditegaskan ahli justru mengatakan bahwa keterangan Bu Putri tentang adanya kekerasan seksual layak dipercaya atau bersesuaian dengan 7 indikator keterangan yang kredibel. Jadi, bagaimana mungkin jaksa secara tiba-tiba membuat kesimpulan sendiri hanya berdasarkan poligraf yang cacat hukum? Ini betul-betul sebuah tragedi dalam logika dan penegakan hukum,” beber Arman.
Arman menyatakan, sejumlah bagian dari tuntutan benar-benar bertentangan dengan bukti yang muncul di persidangan.
Selain itu, kata Arman, keterangan 2 orang saksi juga menerangkan kondisi Putri yang pingsan di luar kamar setelah kejadian, yaitu: Susi dan Kuat.
“Bahkan, kesaksian Richard Eliezer juga mengatakan Bu Putri menelepon dalam keadaan menangis dan meminta Ricky [Bripda Ricky Rizal] dan Richard kembali ke rumah,” beber Arman.
“Penting juga kami ingatkan, asumsi yang dibangun dalam tuntutan tersebut dapat jadi preseden buruk ke depan terhadap korban kekerasan seksual. Kami memandang, asumsi yang bertentangan dengan bukti tersebut membuat korban menjadi korban berulang kali, double victimization,” tutur Arman.
Arman menyampaikan, pihaknya akan mencoba menuangkan argumentasi dan bukti secara lengkap menyanggah tuntutan jaksa.
“Sesuai KUHAP, kami akan tuangkan argumentasi dan bukti secara lengkap dalam nota pembelaan/pleidoi. Kami pastikan pembelaan untuk klien kami adalah pembelaan yang objektif dan berdasarkan fakta-fakta persidangan, bukan pemaksaan asumsi dan kronologis yang tidak logis seperti yang disajikan JPU,” tutup Arman.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles