31.1 C
Jakarta
Selasa, November 29, 2022

Ini Penyebab Rupiah Ditutup Melemah Tipis ke Rp 15.567 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis pada perdagangan Kamis (27/10). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 4 poin ke posisi Rp 15.567 per dolar AS, walaupun sebelumnya sempat menguat 12 poin ke level Rp 15.567 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp 15.563.
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan dolar AS berdiri mendekati level terendah lebih dari satu bulan terhadap mata uang pada hari ini di tengah meningkatnya harapan bahwa Federal Reserve AS akan beralih ke kenaikan suku bunga yang kurang agresif untuk meredam risiko resesi.
Menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) minggu depan, pasar masih mengharapkan kenaikan 75 basis poin (bps), meskipun sentimen membangun bahwa Fed akan memilih kenaikan yang lebih kecil pada bulan Desember.
“Data perumahan yang dirilis minggu ini, yang menunjukkan bahwa harga rumah keluarga tunggal AS merosot pada bulan Agustus dan penjualan rumah keluarga tunggal baru AS turun pada bulan September, memberikan lebih banyak bukti bahwa siklus pengetatan agresif Fed sudah memperlambat ekonomi,” kata Ibrahim dalam keterangan resmi.
Fokus utama pada hari ini adalah keputusan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa, dengan pasar mengharapkannya untuk memberikan kenaikan 75 bps. “Apa yang dikatakan ECB akan menjadi penting,” kata Catril dari National Australia Bank.
Sementara dari sisi internal, laju rupiah hari ini dipengaruhi Bank Indonesia (BI) yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2022 akan mencapai 5,5 persen secara tahunan (YoY), lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi Kuartal Kedua 2022 yang tumbuh 5,44 persen (YoY).
Target pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga 2022 yang dinilai masih kuat tersebut, karena melihat produksi dan konsumsi masyarakat yang masih meningkat di tengah pemulihan ekonomi.
Adapun dari data BI, hingga Agustus 2022 kredit perbankan tumbuh 10,62 persen (yoy), mencakup kredit modal kerja, investasi, dan konsumsi.
Selain itu, sektor produksi yang juga menyumbang perekonomian tercermin dari Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur yang pada Agustus 2022 mencapai level 51,7, naik tipis dari posisi Juli yang sebesar 51,3. Artinya industri manufaktur di dalam negeri dalam posisi ekspansi.
Konsumsi masyarakat juga meneruskan keyakinan. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Agustus 2022 yang berada pada level 124,7, meningkat dibandingkan Juli yang berada pada level 123,2. Posisi IKK yang berada di atas level 100 menunjukkan konsumen berada di zona optimistis.
Meskipun terdapat kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dan Pertamax pada September, konsumsi masyarakat juga terjaga. Apalagi pemerintah juga mengalokasikan anggaran belanja bantuan sosial untuk kelompok rentan di dalam negeri, yang berjumlah Rp 24 Triliun untuk memitigasi dampak kenaikan inflasi, sehingga bisa menopang konsumsi kelompok masyarakat kelas bawah.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka fluktuatif, namun ditutup menguat di rentang Rp 15.550 hingga Rp 15.590,” katanya.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles