28 C
Jakarta
Minggu, Februari 5, 2023

Huu Can Tran: Lansia 72 Tahun Pelaku Pembantaian pada Malam Imlek di California

Lansia berusia 72 tahun, Huu Can Tran, menembak dirinya sendiri usai membantai 10 orang di studio dansa Star Ballroom Dance Studio di Kota Monterey Park, Negara Bagian California, Amerika Serikat (AS), saat perayaan malam Tahun Baru Imlek pada Sabtu (21/1).
Setelah pengejaran intens selama beberapa jam, polisi menemukan Tran dalam keadaan tewas di dalam sebuah van di Kota Torrance yang terletak beberapa kilometer dari Kota Monterey Park.
Sheriff County Los Angeles, Robert Luna, meyakini tidak ada tersangka lain dari penembakan tersebut.
Luna menyebut tersangka membawa pistol semi-otomatis saat menewaskan lima pria dan lima wanita—sebagian besar berusia 50-an atau 60-an—di aula studio di kota tempat ribuan anggota komunitas Asia-Amerika berkumpul untuk perayaan Tahun Baru Imlek.
Sekitar sepuluh lainnya terluka dalam kejadian tersebut.
Tran sempat mendatangi tempat dansa lain tidak jauh dari lokasi penembakan pertama, yakni Lai Lai Ballroom.
Namun, orang-orang dari klub itu mencegah dan melucuti senjatanya sebelum dia melarikan diri. Hingga kini, pihak berwenang belum mengetahui motif pembantaian yang dilakukan Tran.
Ketika penembakan meletus, sebagian warga menyalahartikannya sebagai kembang api. Salah satunya adalah perempuan berusia 30 tahun, Tiffany Chiu. Kala itu, dia sedang merayakan Tahun Baru Imlek di rumah orang tuanya di dekat Star Ballroom Dance Studio
“Banyak lansia tinggal di sini, biasanya sangat sepi,” ungkap dia, dikutip dari Reuters, Senin (23/1).
“Ini bukan sesuatu yang Anda sangka di sini,” imbuh dia.
Menurut beberapa kenalan dekat, imigran dari China ini merupakan pengunjung reguler Star Ballroom Dance Studio. Dia juga pernah memberikan kursus informal di studio tersebut.
Tran bahkan bertemu dengan mantan istrinya di pusat komunitas populer ini sekitar dua dekade yang lalu. Tran melihatnya di sebuah pesta dansa, memperkenalkan dirinya, dan menawarkan pelajaran gratis. Keduanya menikah sebelum bercerai pada 2006.
Walau tidak pernah melakukan kekerasan terhadap mantan istrinya, Tran dikenal sebagai sosok yang mudah marah. Misalnya, bila sang istri melewatkan satu langkah saat menari, Tran akan merasa kesal.
Seorang teman dekatnya mengungkapkan kesan serupa akan Tran.
Keduanya dekat pada akhir 2000-an dan awal 2010-an ketika Tran menempuh perjalanan sekitar lima menit hampir setiap malam dari rumahnya di Kota San Gabriel ke Star Ballroom Dance Studio.
Saat itu, dia sering mengeluh tentang para instruktur di studio.
Tran meyakini, mereka kerap melontarkan komentar-komentar buruk tentangnya. Menurut temannya, Tran memusuhi banyak orang di studio. Dia menggambarkan tersangka sebagai orang yang mudah tersinggung, banyak mengeluh, dan tidak memercayai orang.
Tidak ada yang mengetahui kapan dia terakhir kali berkunjung ke studio tersebut. Setelah menempatinya selama lebih dari dua dekade, Tran menjual rumahnya di Kota San Gabriel pada 2013.
Selang tujuh tahun kemudian, Tran membeli sebuah rumah mobil di komunitas lansia di Kota Hemet, California. Pinggiran kota terpencil tersebut terletak 136 kilometer dari Kota Los Angeles.
Saat mendengar kabar terbaru, temannya mengaku merasa terkejut.
“Saya kenal banyak orang, dan bila mereka pergi ke studio Star, mereka sering ke sana,” jelas pria yang merahasiakan namanya tersebut, dikutip dari CNN.
Star Ballroom Dance Studio menawarkan penyewaan ruang pesta dan juga happy hour karaoke sejak pertama kali dibuka pada 1990.
Situsnya menampilkan berbagai foto perayaan Tahun Baru Imlek dari tahun-tahun sebelumnya yang memperlihatkan para pengunjung tersenyum di ruang dansa yang luas dan terang benderang.
Sebagian besar pelanggannya berusia paruh baya atau manula yang mengikuti kelas waltz, tango, hingga tari tradisional China.
Sanggar tari yang terletak di belakang toko herbal China di sepanjang West Garvey Avenue tersebut mengadakan acara 'Malam Bintang' antara pukul 8 dan 11:30 malam pada Sabtu (21/1).
Acara akhir pekan semacam ini biasanya menarik pengunjung yang lebih tua dari komunitas setempat. Pengunjung berusia 60-an pun terbilang muda mengingat banyak pensiunan berusia 90-an masih terlihat menari di Star Ballroom Dance Studio.
“Orang tua menari mengikuti musik untuk bersenang-senang. Itu olahraga mereka,” ujar seorang instruktur bernama David DuVal, dikutip dari Los Angeles Times.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles