28.9 C
Jakarta
Rabu, Desember 7, 2022

Gelap Malam di Kuburan Cina: Kisah Nestapa Korban Banjir Aceh Tamiang

Ibrahim Johar sepekan ini menginap di kuburan. Bukan menjaga makam, tak juga ada yang baru meninggal. Tapi dia menghindar dari tamu tak diundang di rumahnya, banjir.
“Sudah tujuh hari kami mengungsi,” kata Datuk Kampung Durian, Rantau, Aceh Tamiang, itu via telepon kepada acehkini, Senin (7/11) malam. Datuk sebutan kepala desa di Tamiang.
Air keruh merangsek rumahnya. Banjir melanda kabupaten itu sejak Ahad, 30 Oktober, usai sungai Tamiang berhulu di rimba Leuser melembak. Sumber kehidupan sekejap jadi petaka.
Semula beberapa kampung. Tapi hari berikutnya, aliran air kian deras. Debit naik menyusul hujan nyaris tak henti. Lantas seluruh kecamatan terendam.
Meliuk-liuk di perkampungan, batang air itu bermuara ke Selat Malaka. “Desa kami berbatasan dengan sungai,” kata Ibrahim. “Memang lintasannya.”
Kampung di bagian hulu lebih dulu dilanda banjir: sejak Ahad. Dua hari berselang, musibah datang ke Rantau. Semula masih aman: warga bertahan di rumah, berharap genangan air surut.
Hari berganti Rabu. Banjir kian meningkat, nasib semakin kelabu. Genangan naik menjadi satu, dua, hingga tertinggi tiga meter. Bah meninggi, warga memilih pergi. Mengungsi ke titik tertinggi di Kampung Durian itu.
“Kami berada di kuburan Cina. Inilah titik tertinggi Kampung Durian,” tutur Ibrahim di ujung telepon.
Kawasan kuburan warga Tionghoa itu berada di atas bukit. Letaknya tak jauh dari aliran sungai, tapi luapan tak bisa menjangkaunya. Tenda darurat lantas didirikan di sela-sela bangunan makam.
“Masyarakat tidur di kuburan Cina,” ujar Ibrahim.
Ibrahim tak seorang diri. Kurang lebih 300-500 warga Kampung Durian tidur di kuburan itu. Saat malam menyapa, gelap terasa. Tak ada penerang selain lilin yang bertahan beberapa jam saja.
Sebab, arus listrik Perusahaan Listrik Negara telah padam sejak banjir tinggi. “Kalau cas telepon seluler kami pakai genset tetangga,” sebut Ibrahim.
Ridwan Saputra, Manajer Komunikasi dan TJSL PLN Unit Induk Wilayah Aceh, mengatakan pemutusan arus listrik karena keamanan di daerah banjir. “Menghindari ada korban,” katanya kepada acehkini.
Pemadaman dilakukan di sebagian wilayah sejak Selasa (1/11) lalu. Seiring air kini berangsur surut di sejumlah kecamatan, upaya hidupkan kembali arus listrik mulai dilakukan PLN. “Saat ini petugas terus berupaya untuk menormalkan kembali,” ujarnya.
Kuburan Cina hanya satu dari 20 posko korban banjir di Kampung Durian. Jumlah pengungsi 5.100 jiwa dari 1.200 keluarga. “95 persen warga Kampung Durian terdampak banjir,” ujar Ibrahim.
Menurut Ibrahim, Durian jadi daerah terparah banjir di Kecamatan Rantau. Karena, air paling tinggi mencapai tiga meter. Setelah sepekan, air mulai surut. Tapi warga tak aman pulang ke rumah.
“Dua hari ini kedalaman air telah turun, tersisa sekitar satu sampai dua meter.”
Korban banjir di posko darurat sangat membutuhkan logistik, seperti beras, mi instan, hingga telur. Stok tersedia cukup hingga Selasa siang.
Ibrahim dan para korban banjir di Kampung Durian hanya bisa berharap bantuan pemerintah atau penderma. “Dua hari ke depan kami belum tahu,” kata Ibrahim.
Juru Bicara Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang Agusliayana Devita menuturkan pemerintah akan terus menyuplai bantuan ke posko darurat. Ia mengaku kekurangan logistik selain beras yang kini mulai menipis.
“Beras cukup, alhamdulillah sangat banyak pasokannya. Tapi memang untuk pendamping beras ini seperti sarden, telur, dan mi instan dari awal sangat terbatas jumlahnya,” katanya Senin siang.
Kemarin, kata Devi, air di wilayah hulu dan tengah kabupaten itu sudah surut. Namun, wilayah hilir ketinggian banjir masih sekitar 1 hingga 1,5 meter.
“Dari 12 kecamatan, tinggal yang masih ada airnya itu Kecamatan Manyak Payed, Seruway, Bendahara, Banda Mulia, dan sebagian wilayah Rantau,” kata Devi. []

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles