26 C
Jakarta
Kamis, Februari 9, 2023

Fintech Makin Naik Daun, Apa Saja Manfaatnya Bagi Masyarakat?

Memasuki Revolusi Industri 4.0, banyak sekali jenis perkembangan teknologi yang membuat cara hidup masyarakat menjadi semakin mudah, termasuk dalam memperoleh akses layanan keuangan. Dilansir laman Bank Indonesia (BI), ekonomi digital Indonesia diperkirakan tumbuh hingga USD 130 miliar pada 2025. Salah satunya dipengaruhi oleh adopsi layanan keuangan digital atau financial technology (fintech).
Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mirza Adityaswara, pun mengungkapkan bahwa industri fintech telah memberikan kontribusi yang positif terhadap perekonomian Indonesia. Diprediksi, industri fintech dapat mendongkrak potensi ekonomi digital Indonesia sebesar Rp 4.531 triliun pada 2030 mendatang.
“Pertumbuhan fintech dan ekonomi digital di Indonesia diperkirakan dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia menjadi Rp 24 ribu triliun pada tahun 2030,” kata Mirza dalam acara Closing Ceremony 4th Summit & Bulan Fintech Nasional, Senin (12/12).
Fintech menghadirkan pilihan bagi masyarakat yang menginginkan akses layanan jasa keuangan secara praktis, efisien, nyaman, dan ekonomis. Adanya fintech juga dapat mengakomodir kebutuhan keuangan untuk berbagai lapisan kelompok masyarakat, tak terkecuali bagi pelaku UMKM.
Fintech berkontribusi dalam memeratakan akses layanan keuangan bagi seluruh masyarakat dari berbagai lapisan, bahkan mereka yang belum tersentuh layanan keuangan konvensional, sehingga pada akhirnya akan mendorong kepada inklusi keuangan. Lalu, apa saja manfaat pertumbuhan fintech bagi masyarakat?
Kepala Badan Pengembangan Keuangan Digital (BPKD) KADIN, Pandu Sjahrir mengungkapkan bahwa keberadaan fintech mengalami perkembangan yang pesat beberapa tahun belakangan. Kemajuan teknologi hingga pandemi COVID-19 memengaruhi aktivitas masyarakat, termasuk lebih memilih melakukan transaksi keuangan menggunakan e-wallet dan bank digital, serta lebih melek investasi dan asuransi.
Di sisi lain, masih ada masyarakat yang ternyata belum memiliki pemahaman dan pengetahuan yang baik terkait literasi keuangan, termasuk mengenai berbagai layanan fintech. Menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2022 dari OJK, hanya sekitar 49,68 persen masyarakat yang memiliki pemahaman soal literasi keuangan. Bisa dikatakan, lebih dari separuh masyarakat Indonesia belum memiliki literasi keuangan yang mumpuni.
Edukasi mengenai produk-produk keuangan yang belum menyeluruh ke berbagai lapisan masyarakat menjadi salah satu faktor masih rendahnya literasi keuangan. Karenanya, para pelaku fintech memiliki peran yang cukup besar untuk membuat edukasi finansial di Indonesia semakin baik.
Fintech dapat membantu masyarakat memahami jasa keuangan melalui tampilan produk yang mudah, informasi yang lengkap, serta layanan konsumen yang baik untuk edukasi yang kredibel dan akuntabel pada sebuah produk fintech. Sehingga masyarakat dapat menggunakannya dengan bijak dan bertanggung jawab.
2. Fintech untuk kontrol keuangan
Traveloka PayLater merupakan jenis fintech Buy Now Pay Later (BNPL) di Indonesia di bawah PT Caturnusa Sejahtera Finance (Traveloka Group), yang memungkinkan konsumen melakukan pembelian dan membayarnya di masa mendatang. Sistem ini memungkinkan untuk melakukan transaksi penting saat ini dan bisa dibayar pada bulan berikutnya.
“BNPL merupakan solusi bagi konsumen yang membutuhkan kemudahan berbelanja dan mengatur sendiri cicilan pembayaran, tetapi tidak memiliki akses kepada layanan keuangan tradisional,” ujar Caesar Indra, Presiden Traveloka Grup, serta Wakil Kepala Bidang II, Koordinator Pengembangan Inovasi Layanan Keuangan Digital dan Edukasi Literasi KADIN.
Bila bijak menggunakannya, PayLater dapat membantu mengontrol arus kas keuangan bulanan agar tetap stabil. Seperti membantu Anda membeli tiket perjalanan edukasi atau bisnis, hingga membeli kebutuhan mendesak yang harus dibeli dalam waktu cepat.
Untuk memfasilitasi konsumen bijak menggunakan PayLater, Traveloka PayLater juga menyediakan berbagai pilihan tanggal jatuh tempo yang sesuai dengan kebutuhan pengguna dengan pilihan tenor cicilan sesuai kebutuhan dengan suku bunga yang kompetitif.
Sebagai layanan yang berizin dan diawasi oleh OJK, Traveloka PayLater adalah layanan pembiayaan berbasis online yang didukung fintech, yang memungkinkan konsumen untuk melakukan cicilan tanpa kartu kredit untuk membeli produk apa pun di aplikasi Traveloka. Selain itu, Traveloka PayLater juga memiliki beberapa keunggulan, di antaranya proses pengajuan cepat dan aman serta limit pinjaman yang fleksibel.
3. Memberikan akses investasi yang mudah untuk masyarakat
Pandemi COVID-19 tidak menghambat kinerja pasar modal yang terlihat dari pesatnya pertumbuhan investor. Menurut laporan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), saat ini jumlah investor pasar modal mencapai lebih dari 9,7 juta investor dibandingkan 2,5 juta investor pada tahun 2019.
Investasi kini juga tidak hanya dilakukan oleh orang tua, namun semakin merambah ke generasi yang lebih muda, hingga ke Gen Z. Bahkan, diperkirakan komposisi milenial dan Gen Z sebagai investor lokal semakin mendominasi mencapai lebih dari 81 persen dari total seluruh investor.
Percepatan pertumbuhan investor ini ditopang oleh munculnya kesadaran literasi finansial ditambah teknologi yang pesat yang memang dikuasai investor muda. Selain itu, pilihan investasi pun semakin bervariasi dan bisa diakses hanya dari smartphone.
Bagi investor muda, pasti sudah tidak asing lagi dengan Pluang, sebuah aplikasi yang menawarkan berbagai instrumen investasi, mulai dari saham, reksa dana, emas, hingga crypto. Pada awal 2022 lalu, Pluang juga resmi meluncurkan instrumen investasi Contract for Difference Product (CFD) yang memberikan kesempatan bagi para investor Indonesia untuk mendapatkan eksposur ke-40 saham di bursa Amerika Serikat.
Pluang menawarkan CFD dengan rasio lindung nilai 1:1, sehingga pengguna bisa memiliki pengalaman investasi yang sama seperti berinvestasi langsung di pasar saham AS. Produk ini juga memungkinkan investor berinvestasi di saham AS mulai dari 0,1 lembar saham.
Selain itu, peluang menghadirkan berbagai fitur yang dapat mempermudah nasabah mengakses investasi. Mulai dari tampilan yang mudah dipahami, operasi back-end kelas dunia memungkinkan Pluang menawarkan spread/biaya terendah, serta pilihan kelas aset yang dikurasi dan benar-benar terdiversifikasi untuk meningkatkan imbalan yang sesuai dengan profil risiko. Tak mengherankan, aplikasi investasi milik PT PG Berjangka yang telah terdaftar di OJK ini telah memiliki lebih dari 7,9 juta pengguna.
4. Fintech untuk mengembangkan UMKM
Kebutuhan kredit modal bagi UMKM setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Namun menurut data OJK per, dari total usaha yang mencapai 63 juta, hanya 26 persen yang sudah terpenuhi. Fintech produktif dapat menjadi solusi permodalan UMKM untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
Hal senada diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Adrian Gunadi, yang mengungkapkan hingga September 2022, fintech berhasil mencatatkan penyaluran pendanaan mencapai Rp 455 triliun yang disalurkan oleh 960.396 pemberi pinjaman kepada 90,21 juta penerima pinjaman.
“Industri fintech lending terbukti dapat memberikan kemudahan layanan finansial di tengah masih banyaknya masyarakat Indonesia masih masuk ke dalam kategori unbanked,” ujarnya.
Komitmen memberikan kemudahan layanan finansial bagi masyarakat menjadi salah satu tujuan Modalku, pionir platform pendanaan digital bagi UMKM yang menghubungkan borrower (UMKM/pengusaha) yang membutuhkan pinjaman untuk mengembangkan usaha mereka dengan para lender (pendana).
Saat ini Modalku sudah melakukan pendanaan hingga Rp 40 triliun dengan lebih dari 200.000 lender di berbagai negara Asia Tenggara, seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, Singapura, dan tentunya Indonesia.
Di sini, UMKM bisa memperoleh pinjaman modal usaha hingga Rp 2 Miliar, bunga kompetitif dan terjangkau, serta tenor hingga 12 bulan tanpa jaminan Fixed Asset. Sedangkan pendana bisa mulai pendanaan mulai dari Rp 100 ribu per pinjaman dengan tingkat bunga yang menarik 10-17% p.a.
Di Indonesia, Modalku memiliki dua produk pinjaman, yaitu Modalku Kawan Mikro dan Invoice Financing. Modalku Kawan Mikro merupakan pinjaman modal kerja bagi UMKM Indonesia yang dapat digunakan untuk melancarkan arus kas untuk menambah variasi produk. Cocok bagi pengusaha e-commerce dengan pengajuan pinjaman hingga Rp 250 juta dan tenor Pinjaman 12 bulan.
Lalu Invoice Financing adalah solusi arus kas bagi bisnis Anda dengan menjadikan aset invoice menjadi sumber pembiayaan modal kerja yang produktif. Anda bisa mengajukan pinjaman hingga Rp 2 miliar dengan tenor 15-90 hari. Pencairan dana bisa dilakukan hingga 70-80 persen dari nilai invoice, dengan suku bunga terjangkau mulai dari 1% per bulan. Untuk info selengkapnya, kunjungi www.modalku.co.id.
5. Mempermudah akses asuransi untuk melindungi keluarga
Kesenjangan akses asuransi masih menjadi isu krusial di berbagai negara ASEAN, termasuk Indonesia. Penetrasi di ASEAN juga masih berada pada angka yang rendah yakni hanya 3,6 persen.
Padahal perusahaan insurance technology (insurtech) memiliki andil penting untuk memperluas akses asuransi secara lebih inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk masyarakat di daerah terpencil dan prasejahtera. Seperti PasarPolis, perusahaan insurtech yang telah ada sejak 2015.
Pengguna PasarPolis berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Bahkan sembilan dari sepuluh dari total 80 juta pelanggan PasarPolis belum pernah membeli polis asuransi sebelumnya. Sementara 40 persen adalah pekerja di sektor informal, termasuk pengemudi taksi, kurir, dan UMKM online.
Sejak diluncurkan, PasarPolis menjadi perusahaan pertama yang didukung oleh tiga Unicorn Indonesia, salah satunya Traveloka, dan telah telah mengeluarkan lebih dari 1 miliar polis dan telah mengumpulkan lebih dari USD 59 juta. PasarPolis juga terus melakukan inovasi produk asuransi yang dibutuhkan masyarakat, seperti asuransi perjalanan, rumah, logistik, elektronik, perangkat kesehatan, asuransi jiwa, mobil/kendaraan bermotor, dan lainnya.
Di tengah pandemi, PasarPolis terus memperluas akses asuransi untuk menjembatani tantangan kesenjangan asuransi di Indonesia dan Asia Tenggara, termasuk Vietnam dan Thailand.
Pada Oktober 2022, PasarPolis meluncurkan brand baru “TAP” bersama dengan sub-brand “TAP Insure” yang menyasar end-customer. Konsumen dapat mengakses produk asuransi, melakukan pembelian, hingga klaim dari satu aplikasi TAP Insure yang dapat diunduh dari Play Store dan App Store.
Artikel ini merupakan bentuk kerja sama dengan Traveloka

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles