26.1 C
Jakarta
Senin, Desember 5, 2022

Fakta Baru, Serangan Demam Berdarah Dengue Lebih Parah ke Orang Berkulit Putih

Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi masalah kesehatan serius di beberapa wilayah di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) jumlah kumulatif kasus konfirmasi DBD dari Januari-September 2022 yakni sebanyak 87.501 kasus dengan kasus kematian sebanyak 816 kematian orang.
Tingginya kasus DBD mendorong pakar kesehatan masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), Dr. Sulistiawati, dr., M.Kes selalu mengedukasi masyarakat di setiap kesempatan. Seperti dalam acara Airlangga Community Development Hub (ACDH) 2022 di Desa Pengudang, Kecamatan Sebong, Kabupaten Bintan, Riau, baru-baru ini.
“DBD ini menjadi perhatian bersama karena setiap tahun kasusnya ada. Apalagi memasuki musim hujan,” ujarnya, (10/11).
Dikatakan Sulis, sebelum tahun 60-an DBD banyak menjangkit anak-anak di bawah usia 15 tahun. Namun semakin berjalannya waktu terjadi pergeseran. Kini orang dewasa juga memiliki risiko sama besarnya. Kendati demikian, tingkat keparahan antara pasien satu dan yang lain akan berbeda.
“Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat keparahan DBD ini. Di antaranya respons imun, kemudian etnis,” ungkapnya.
Menurut jurnal kesehatan berjudul Analysis of Dengue Infection Severity among Ethnics in Surabaya, Indonesia, etnis Cina cenderung menunjukkan gejala perdarahan yang lebih berat dibandingkan etnis Jawa dan lainnya karena nilai rata-rata trombosit terendahnya paling rendah pada penderita DBD berdasarkan etnis.
Parameter yang menunjukkan terjadinya hemokonsentrasi pada penderita DBD yang umumnya diukur dengan melihat peningkatan Hematokrit dan HB menunjukkan nilai rata-rata HB tertinggi dan Hematokrit tertinggi juga didapatkan pada kelompok etnis Cina.
Dengan menganalisa menggunakan uji statistic Chi-square menunjukkan ada perbedaan yang signifikan rata-rata nilai HB, PCV tertinggi dan rata-rata nilai trombosit terendah berdasarkan etnis. Oleh karena itu etnis Cina cenderung lebih rentan mengalami gejala lebih berat pada infeksi Dengue.
Perbedaan tingkat keparahan itu dapat disebabkan perbedaan respons imun yang berbeda berdasarkan etnis lewat jalur perbedaan genetik dalam pengendalian respons imun. Penelitian itu ditulis oleh Sulistiawati, Suharto, Harianto Notopuro, Abyan Irzaldi, Adikara Pagan Pratama.
Penyakit komorbid juga menjadi salah satu faktor pemberat saat menderita DBD.
“Pasien obesitas juga berisiko mengalami keparahan saat terjangkit DBD,” imbuhnya.
Namun yang paling krusial di antara yang disebut di atas adalah gaya hidup. Gaya hidup yang dimaksud adalah bagaimana pasien mau menjaga tubuhnya saat sakit. Rutin tidaknya pasien konsumsi makanan sehat, minum air putih serta minum obat teratur berpengaruh besar pada tingkat keparahan penyakit.
“Mendeteksi penyakit DBD lebih awal juga bisa menekan tingkat keparahan penyakit hingga kematian,” tandasnya.
Lalu seperti apa gejala DBD yang bisa diketahui? Dikatakan Sulis, gejala DBD di antaranya panas naik turun selama 3-7 hari. Namun yang perlu diwaspadai DBD adalah ketika di lingkungan sekitar sudah ada orang yang terjangkit DBD, baik di lingkungan rumah maupun lingkungan sekolah. Didukung dengan kondisi cuaca yakni terjadi di musim penghujan.
Kemudian terjadi pendarahan. Keluar bintik-bintik merah dan mual, pusing, meriang dan sakit perut karena pembengkakan liver.
“Jadi kalau gejala di atas muncul di fase satu minggu ini, kita harus berhati-hati. Apalagi sampai terjadi kejang. Jangan sampai terlambat mengirim ke rumah sakit karena risikonya bisa fatal,” tegasnya.
Saat gejala demam terjadi, pasien boleh minum pereda panas diiringi dengan minum air putih yang banyak. Namun jika panas tak kunjung turun, segera bawa pasien ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut dan pengobatan tepat.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles