32.7 C
Jakarta
Jumat, Desember 2, 2022

Elon Musk Sebut Twitter Terancam Bangkrut, Kembali Ditinggal Petingginya

Elon Musk menyinggung kemungkinan Twitter jatuh bangkrut pada semua sesi tanya jawab internal dengan karyawan Twitter, Kamis (11/11). Bersamaan dengan ini, perusahaan diterjang peringatan dari regulator terkait privasi, dan petingginya yang serempak hengkang.
Musk menjawab pertanyaan tentang potensi Twitter gulung tikar pada sesi yang berlangsung lebih dari satu jam tersebut. Di rekaman percakapan yang dibocorkan The Verge, pria berusia 51 tahun itu mengatakan prioritas sekarang adalah mendatangkan uang sebanyak mungkin.
“Itu adalah prioritas. Kita tidak dapat menskalakan hingga 1 miliar pengguna dan mengalami kerugian besar di sepanjang jalan,” sambung Elon, seperti dikuti The Verge. “Itu tidak mungkin. Saya tidak berpikir kita akan melakukannya.”
Sebelumnya dalam email pertamanya di seluruh perusahaan pada hari itu, Musk memperingatkan Twitter tidak akan dapat “bertahan dari penurunan ekonomi yang akan datang,” jika gagal meningkatkan pendapatan berlangganan untuk mengimbangi penurunan pendapatan iklan, menurut laporan Reuters.
Musk langsung memecat CEO; CFO; Legal, Policy, Trust Lead; hingga General Counsel Twitter di hari pertama pasca-mengambil alih perusahaan. Sekitar seminggu kemudian Musk memecat 3.700 karyawan Twitter lintas divisi dan global. PHK besar-besaran ditambah arah Twitter yang belum pasti, membuat semakin banyak pegawai dan eksekutif media sosial yang memilih keluar.
Satu hari setelah menyelenggarakan Twitter Space bersama Musk, Head of Trust & Safety Twitter Yoel Roth mengundurkan diri. Space yang juga dihadiri Head of Ad Sales Twitter Robin Wheeler itu merupakan sesi tanya jawab bersama Musk soal prospek periklanan di masa depan.
Roth mengundurkan diri tanpa pengumuman. Kabarnya, Wheeler juga sempat hengkang, tapi berhasil diyakinkan oleh Musk untuk tetapbertahan di Twitter.
Di hari yang sama, Chief Information Security Officer Twitter Lea Kissner juga mengumumkan dirinya keluar dari perusahaan. Chief Privacy Officer Damien Kieran dan Chief Compliance Officer Marianne Fogarty juga mundur dari Twitter per Kamiss (10/11), menurut laporan Reuters yang berasal dari pesan di Slack perusahaan.
Komisi Perdagangan Federal AS (FTC) memantau Twitter dengan saksama setelah eksekutif privasi dan kepatuhan keluar. Pengunduran diri mereka memungkinkan Twitter melanggar aturan federal yang menyangkut privasi dan data pengguna.
“Kami melacak perkembangan terakhir di Twitter dengan keprihatinan mendalam,” kata Douglas Farrar, direktur urusan publik FTC.
“Tidak ada CEO atau perusahaan yang kebal hukum, dan perusahaan harus mengikuti keputusan persetujuan kami. Perintah persetujuan kami yang direvisi memberi kami alat baru untuk memastikan kepatuhan, dan kami siap menggunakannya.
Pengacara Musk, Alex Spiro, mengatakan kepada beberapa karyawan melalui email pada Kamis (10/11) malam bahwa Twitter tidak akan bentrok regulasi FTC.
“Kami berbicara dengan FTC hari ini tentang kewajiban berkelanjutan kami dan melakukan dialog konstruktif yang berkelanjutan,” tulis Spiro. “Saya mengerti bahwa ada karyawan di Twitter yang bahkan tidak mengerjakan masalah FTC yang berkomentar bahwa mereka bisa (masuk) ke penjara jika kami tidak mematuhi – itu bukan cara kerjanya.”
Pada Mei 2022, Twitter setuju untuk membayar 150 juta dolar AS untuk menyelesaikan tuduhan FTC bahwa mereka menyalahgunakan informasi pribadi, seperti nomor telepon, untuk menargetkan iklan kepada pengguna setelah memberi tahu mereka bahwa informasi itu dikumpulkan hanya untuk alasan keamanan.
Pengacara Twitter pada Kamis (10/11) menyebutkan dalam memo internal bahwa Spiro mengatakan bahwa Musk bersedia mengambil “sejumlah besar risiko” dengan perusahaan. “Elon menempatkan roket ke luar angkasa, dia tidak takut dengan FTC,” kata pengacara itu mengutip Spiro.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles