25 C
Jakarta
Minggu, November 27, 2022

Dinas Kesehatan Aceh Mengajak Semua Pihak Terlibat Cegah Stunting

Provinsi Aceh merupakan salah satu penyumbang stunting tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2021, angka prevalensi anak stunting di Aceh adalah 33,2 persen. Angka itu berada di posisi ketiga setelah Nusa Tenggara Timur (37,8 persen) dan Sulawesi Barat (33,8 persen).
“Sementara prevalensi stunting di Indonesia berada di 24,4 persen, Aceh jauh di atas rata-rata nasional,” ujar dr Sulasmi MHSM, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Aceh dalam keterangannya, Sabtu (12/11).
Angka prevalensi stunting Indonesia dinilai lebih baik dibandingkan Myanmar (35 persen), tetapi masih lebih tinggi dari Vietnam (23 persen), Malaysia (17 persen), Thailand (16 persen), dan Singapura (4 persen). Saat ini, Indonesia menempati urutan kedua di Asia Tenggara dan keempat dunia dengan beban anak yang mengalami stunting.
Kata Sulasmi, untuk wilayah Aceh, Kabupaten Gayo Lues menjadi penyumbang prevalensi stunting tertinggi (42,9 persen), disusul Kota Subulussalam (41,8 persen). Sementara prevalensi stunting terendah ada di Kota Banda Aceh (23,4 persen) dan Kota Sabang (23,8 persen).
Menurut Sulasmi, stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa.
Anak yang mengalami gizi kronis ditandai dengan tinggi badan yang lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. “Masalah ini tantangan besar bagi Aceh, untuk menurunkan prevalensi stunting harus dilakukan lintas sektor,” sebutnya.
Menurutnya, ada dua intervensi yang dilakukan untuk menurunkan prevalensi stunting, yakni intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Dinas Kesehatan, hanya bisa melakukan dari segi intervensi spesifik dan hanya mampu mendongkrak 30 persen untuk menekan prevalensi anak stunting.
Intervensi gizi spesifik adalah kegiatan yang langsung mengatasi terjadinya stunting, di antaranya seperti asupan makanan, infeksi, status gizi ibu, penyakit menular, dan kesehatan lingkungan.
“Kalau intervensi sensitif itu dilakukan di luar sektor kesehatan, seperti sektor pertanian, pendidikan, keluarga berencana, PUPR, perekonomian, dan lain-lain, bisa menekan stunting sampai 70 persen,” ujar dr Sulasmi.
Karenanya, Dinas Kesehatan Aceh mengajak semua pihak masyarakat, keluarga, dan lintas sektor di Aceh komitmen untuk pencegahan stunting. “Jika ini kerja sama lintas sektor ini bisa terjalin dengan baik, masalah stunting di Aceh akan teratasi ke depannya,” tutup Sulasmi. []

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles