30.9 C
Jakarta
Senin, Desember 5, 2022

Din Syamsudin: Perlu Restrukturisasi Kepemimpinan Pusat Muhammadiyah

Menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-48 dan Aisyiah di Solo pada 19-20 November 2022 mendatang, sejumlah cendekiawan Muhammadiyah menggelar diskusi di Kampus UMY, Minggu (13/11).
Dalam diskusi yang diprakarsai Pusat Studi Muhammadiyah UMY itu salah satu tokoh cendekiawan Muhammadiyah yang juga eks Ketum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan, perlu ada restrukturisasi kepemimpinan pusat Muhammadiyah.
“Perlu ada restrukturisasi kepemimpinan pusat Muhammadiyah. Selama ini, PP Muhammadiyah lebih tampil sebagai syuriah (konsultatif), bukan tanfidziyah (eksekutif). Banyak anggota PP Muhammadiyah yang merasa dirinya syuriah (yang berwenang menentukan ketetapan), tapi kurang terlibat dalam melaksanakan keputusan itu dengan menggerakkan unsur pembantu pimpinan (majelis atau lembaga),” kata Din lewat keterangannya, Senin (14/11).
Menurut Din, dalam menghadapi tantangan zaman baik pada skala global maupun lokal yang meningkat, Muhammadiyah dituntut lebih responsif. Dia menilai selama ini sudah bagus, tapi perlu lebih bagus lagi.
Dalam kesempatan itu, Din menyampaikan usulan yang dibagi dalam 3 poin penting. Salah satunya penambahan jumlah anggota pimpinan pusat Muhammadiyah yakni dari 13 menjadi 19 atau lebih.
“Kedua, anggota PP lama cukup sepertiga yang dipertahankan (kalau 13 berarti 5 orang, kalau 19 berarti 7 orang) yaitu mereka yang visioner, aktif, dan berkemajuan. Ketiga, di pucuk struktur cukup ketua umum didampingi wakil ketua umum sebagai konduktur,” ujar Din.
“Di bawahnya perkuat kesekjenan yang dibantu para wakil sekjen yang menggerakkan pelaksanaan program-program umum persyarikatan dan sekaligus memberdayakan majelis/lembaga di bawahnya. Di samping itu perlu diperkuat biro-biro yang berada di bawah Sekjen (tidak diletakkan dalam sekretariat)” sambungnya.
Menurut Din, Muhammadiyah memiliki banyak kader-kader muda atau setengah tua sebagai darah segar untuk mengisi pos-pos dalam struktur tadi.
“Syarat-syaratnya mereka memiliki integritas tinggi, mempunyai intelektualitas memadai, mempunyai kapabilitas mumpuni, dan availabilitas (keberadaan yang selalu hadir bekerja, serta menyediakan waktu untuk organisasi),” ungkapnya.
Turut hadir dalam diskusi itu Rektor UMY Prof. Gunawan, Prof. A. Munir Mulkan, Prof. Din Syamsuddin, Prof. Hilman Latief (Dirjen Haji dan Umroh Kemenag), Prof. Mufti Fajar (Ketua KY), Dr. Ibnu Hajar (DPR-RI), Dr. Zuki Qodir, Dr. Sayuti, Dr. Azaki Khairuddin, Dr. Normasari (Warek UAD), dan sejumlah intelektual muda Muhammadiyah lainnya.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles