31.1 C
Jakarta
Kamis, Desember 1, 2022

China Siap Beri Kompensasi Perubahan Iklim ke Negara Miskin

China menyatakan kesediaan untuk memberikan kompensasi kepada negara miskin atas kerugian yang mereka alami akibat perubahan iklim. Komitmen China disampaikan saat KTT COP27 di Mesir pada Rabu (9/11).
Utusan China untuk Urusan Iklim, Xie Zhenhua, menyebut negaranya tidak memiliki kewajiban atas kerugian yang diderita negara lain akibat perubahan iklim. Pasalnya, China juga menjadi negara yang mengalami dampak akibat perubahan iklim.
Dia menggarisbawahi cuaca ekstrem yang membawa kerugian besar bagi China. Xie mengungkapkan, tanggung jawab atas kerugian dan kerusakan ini masih dipegang oleh negara-negara kaya.
“Kami sangat mendukung klaim dari negara-negara berkembang, terutama negara-negara yang paling rentan, untuk menuntut ganti rugi kerugian dan kerusakan karena China juga merupakan negara berkembang dan kami juga banyak menderita akibat peristiwa cuaca ekstrem,” kata Xie yang dikutip oleh Al Jazeera.
“Ini bukan kewajiban China tetapi kami bersedia memberikan kontribusi dan upaya kami.” tambahnya.
Lebih lanjut, juru bicara itu menjelaskan kompensasi yang dimaksud tidak akan berbentuk dukungan finansial, melainkan kerja sama dengan negara berkembang untuk mengurangi dampak secara nyata.
Utusan khusus Amerika Serikat (AS), John Kerry, telah menyerukan kepada China untuk berkontribusi secara finansial untuk mengatasi kerugian dan kerusakan akibat perubahan iklim pada Oktober.
Menurut Kerry, China perlu melakukannya bila mempertahankan jumlah emisi yang mereka keluarkan setiap tahunnya hingga 30 tahun ke depan. Ia juga menganggap China sebagai aktor utama untuk menjaga kenaikan suhu global di ambang batas 1,5 derajat Celsius.
Merespons hal tersebut, Xie menambahkan, China telah menyumbangkan miliarian yuan ke negara berkembang untuk menyokong upaya mitigasi iklim mereka.
Namun, China sampai saat ini belum melanjutkan pembicaraan mengenai iklim dengan Amerika Serikat setelah kunjungan Ketua DPR AS, Nancy Pelosi, ke Taiwan pada Agustus.
Melupakan pakta yang tercapai dengan AS pada COP26 lalu di Glasgow, Xie mengungkapkan kunjungan Pelosi telah memperburuk konflik antara China dan Taiwan. Namun, pembicaraan akan kembali dilanjutkan oleh China terlepas dari perjalanan Pelosi.
“Pintunya benar-benar ditutup oleh [Amerika Serikat]. Kami, China, yang mencoba membukanya,” ungkap Xie.
Penulis: Thalitha Avifah Yuristiana.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles