33.4 C
Jakarta
Kamis, September 29, 2022

Band Timteng Ciptakan Koeksistensi Jauh dari Tanah Air Para Anggotanya

Sementara Eden Cami memejamkan mata lalu mulai menyanyikan lagu-lagu kuno dalam bahasa Arab dan Ibrani dengan suara jernih, musisi Yahudi Israel Or Rozenfeld memainkan kontrabasnya dengan sepenuh hati. Anggota band lainnya, Wassim Mukdag, menciptakan suara-suara oriental dari alat musik oud atau gambusnya.

Bersama-sama, mereka membawa penonton mereka ke dalam perjalanan magis melewati Timur Tengah.

Hanya saja, ketiga musisi itu tinggal di Berlin, jauh dari Timur Tengah. Di tanah air mereka, mereka tidak akan pernah dapat tampil bersama karena permusuhan lama dan ketegangan antara pemerintah dan rakyat negara mereka.

Mukdag, yang berasal dari Suriah, mengatakan,”Perlu 3.500 kilometer bagi kami untuk bertemu, meskipun ini seperti dua jam saja berkendaraan dengan mobil.” Musisi berusia 37 tahun ini mengacu pada jarak berkendara secara teoritis antara rumah-rumah mereka di Suriah dan Israel yang bertetangga. Pada kenyataannya, orang-orang tidak dapat melintas dari Suriah ke Israel atau sebaliknya. Perbatasan di Timur Tengah adalah tempat untuk memisahkan orang-orang,” katanya dengan senyum masam. Mukdag datang ke Berlin pada tahun 2016 sebagai pengungsi yang melarikan diri dari perang saudara dan penganiayaan di Suriah.

Dari kiri: Wassim Mukdad, Borys Slowikowski, Eden Cami dan Or Rozenfeld dari band Arab-Israel-Yahudi Kayan Project berbincang setelah konser di kapal teater Yahudi 'MS Goldberg' di Berlin, Jerman, Minggu, Mei 29 Oktober 2022. (Foto: AP/Stefani Loos)

Dari kiri: Wassim Mukdad, Borys Slowikowski, Eden Cami dan Or Rozenfeld dari band Arab-Israel-Yahudi Kayan Project berbincang setelah konser di kapal teater Yahudi ‘MS Goldberg’ di Berlin, Jerman, Minggu, Mei 29 Oktober 2022. (Foto: AP/Stefani Loos)

Cami (35 tahun), adalah orang Arab dari kelompok minoritas Druze di Israel Utara. Ia datang ke ibu kota Jerman untuk menemukan kebebasan dan ketenangan.

Rozenfeld, cucu penyintas Holokos, datang untuk mencari kota kosmopolitan dengan biaya hidup terjangkau, di mana ia tidak perlu bekerja sampingan sementara mencari nafkah sebagai musisi.

Sementara itu Borys Slokowski, penabuh gendang yang baru saja bergabung dengan grup itu, adalah seorang imigran dari Polandia.

Lima tahun silam, tepatnya pada 2017, Cami memprakarsai pembentukan band mereka yang disebut Kayan Project. Kayan, kata dalam bahasa Arab yang berarti eksistensi, juga menjadi tema musik dan kebersamaan mereka.

Dalam proses menciptakan dan memainkan musik, mereka terus mencari seberapa banyak kesamaan di antara mereka, dan seberapa dekat akar budaya dan bahasa mereka yang berbeda.

“Ini bukan sesuatu yang hanya dapat dilakukan seniman atau musisi,” jelas Cami.

Dengan latar belakang yang sangat berbeda dan bahkan terkadang berbeda pendapat secara politik, mereka masih dapat berkomunikasi, saling berbicara dan melakukan hal-hal yang sangat indah bersama-sama. Ini adalah sesuatu yang dapat dimiliki semua orang, lanjut Cami.

Eden Cami (kiri) dan Or Rozenfeld dari band Arab-Israel-Yahudi Kayan Project saat melakukan soundcheck sebelum konser di kapal teater Yahudi MS Goldberg di Berlin, Jerman, Minggu, 29 Mei 2022. (Foto: AP/Stefani Loos)

Eden Cami (kiri) dan Or Rozenfeld dari band Arab-Israel-Yahudi Kayan Project saat melakukan soundcheck sebelum konser di kapal teater Yahudi MS Goldberg di Berlin, Jerman, Minggu, 29 Mei 2022. (Foto: AP/Stefani Loos)

Sementara itu di Timur Tengah, warga Suriah terjebak dalam perang saudara. Warga Yahudi, Arab dan Palestina di Israel berperang memperebutkan wilayah selama puluhan tahun. Hubungan antara negara-negara bertetangga juga dibayangi oleh perang pada masa lalu.

Di Berlin, para seniman merasakan nikmatnya hal-hal yang mempersatukan mereka, bukan meratapi apa yang memisahkan mereka.

“Gagasannya adalah kami dapat membuat budaya bersama, meskipun kami tidak memiliki 100 persen kesamaan pandangan politik. Ini adalah pernyataan yang dengan sendirinya mengemukakan bahwa kita tidak perlu perang untuk dapat hidup berdampingan secara damai. Kita dapat mulai saling berkomunikasi. Kita dapat memulai dialog,” kata Wassim Mukdag, yang orang tuanya Muslim.

Pada suatu hari Minggu beberapa waktu lalu, Cami mengawali pertunjukan dengan menyanyikan lagu dalam bahasa Ibrani berjudul Ahavat Neurai, atau Cinta Pertama, diikuti lagu berbahasa Arab Ghesh atau Curang.

Borys Slowikowski (kiri) dan Or Rozenfeld (kanan) dari band Arab-Israel-Yahudi Kayan Project, saat tampil dalam konser di perahu teater Yahudi 'MS Goldberg' di Berlin, Jerman, Minggu, 29 Mei 2022. (Foto AP/Stefani Loos)

Borys Slowikowski (kiri) dan Or Rozenfeld (kanan) dari band Arab-Israel-Yahudi Kayan Project, saat tampil dalam konser di perahu teater Yahudi ‘MS Goldberg’ di Berlin, Jerman, Minggu, 29 Mei 2022. (Foto AP/Stefani Loos)

Cami, yang dibesarkan dengan berbicara dalam bahasa Arab dan Ibrani, mengatakan, wajar saja baginya menggunakan kedua bahasa tersebut dalam lagu-lagunya.

Menurutnya, menjalani hidup dalam identitas yang kompleks sangatlah menarik. Cami menyatakan ia merasa gembira dapat mengekspresikannya dalam seni.

Bamyak di antara musik yang dimainkan band ini adalah lagu-lagu Israel atau Arab yang sudah dikenal, tetapi beberapa lagu juga merupakan ciptaan mereka sendiri.

Band ini telah diundang untuk tampil dalam pekan pembukaan acara yang disebut “Jewish Theater Boat MS Goldberg” (Perahu Teater Yahudi MS Goldberg) – satu acara unik di Berlin.

Gagasan menampilkan seni – teater, musik, sastra – di atas kapal, yang dalam konteks lebih luas terkait dengan budaya Yahudi, diprakarsai sekelompok seniman yang menamakan diri “Discover Jewish Europe” beberapa tahun silam. Karena pandemi dan masalah finansial, perlu waktu beberapa lama sampai akhirnya mereka dapat memulai kembali pertunjukan di atas kapal itu pada akhir bulan lalu.

Kapal tersebut, yang pada masa lalu digunakan untuk mengangkut kerikil melintasi sungai-sungai di Jerman, akan berlabuh di Sungai Havel di distrik Spandau, Berlin, sepanjang musim panas ini. Setelah itu kapal tersebut akan berlayar di Sungai Spree di tengah kota Berlin, dan pada masa mendatang, melakukan tur keliling Jerman dengan melalui sungai-sungai di negara itu. [uh/lt]

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles