32.7 C
Jakarta
Jumat, Desember 2, 2022

Bagas Adhadirgha Kembali Unggul dalam Debat Kandidat Caketum BPP HIPMI

LABUAN BAJO-Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Bagas Adhadirgha menilai bahwa para pengusaha muda di HIPMI mampu manfaatkan kehebatan Indonesia di sektor pariwisata di masa depan.
“Kedepan peran HIPMI dalam rangka meningkatkan ekosistem pariwisata, HIPMI akan menjadi inkubator bagi para pengusaha pariwisata di Indonesia,” katanya dalam keterangan tertulis kepada media ini.
Bagas menyampaikan hal ini dalam debat kandidat pada bursa pemilihan Ketua Umum BPP HIPMI 2022-2025 tahap kedua yang digelar pada Jumat (4/10) malam di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat jelang Musyawarah Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) ke XVII pada pertengahan November 2022 mendatang.
Debat itu diikuti 3 calon ketua umum (Caketum) BPP HIPMI 2022-2025 yakni Bagas Adhadirgha (Sekretaris Jenderal BPP HIPMI), Akbar Hiimawan Buchari (Wakil Ketua Umum BPP HIPMI), dan Anggawira (Ketua Umum Bidang Keuangan dan Perbankan BPP HIPMI).
Bagas menegaskan bahwa pariwisata itu adalah karunia Tuhan yang tidak bisa dicopy paste oleh negara manapun karena setiap negara punya keunggalan sektor pariwisata sendiri-sendiri.
Bagas menilai bahwa destinasi pariwisata Indonesia adalah, destinasi wisata terbaik di dunia. Hal tersebut terbukti dengan adanya Labuan Bajo yang memiliki wisata Komodo yang terkenal dan menjadi satu-satunya di dunia.
Dia menilai bahwa Komodo adalah hewan pre historik yang masih hidup sampai hari ini. Dan dengan rahmat Tuhan diberikan kepada masyarakat NTT khususnya Indonesia untuk dimanfaatkan keunggulannya.
“Dan keungglan bangsa kita adalah diindustri pariwisata. Industri parwisata yang baik ditunjang dengan infrastruktur yang memadai. Salah satu buktinya adalah saat ini di Labuan Bajo pembagunan infrastuktur mendukung pariwisara sangat cepat dan tercepat di di Nusantara,” tambah dia.
Bagas yang juga pelaku industri pariwisata itu menilai bahwa untuk mendukung sektor parwisata di suatu daerah dibutuhkan ketersediaan sumber daya manusia (SDM). Karena itu yang perlu dilakukan adalah sosialisasi dan edukasi masyarakat lokal sehingga berkompeten.
Dalam pemaparan visi dan misi Bagas juga membahas soal bonus demografi emografi dikaitkan dengan munculnya suatu kesempatan yang disebut dengan jendela peluang yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, karena bonus demografi dapat bermanfaat mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjadi instrumen baik dalam mengurangi tingkat kemiskinan.
Karenanya, katanya, bonus demografi yang dimanfaatkan dengan optimal akan mengurangi kemiskinan dengan signifikan. Namun demikian, melimpahnya penduduk bisa menciptakan kondisi yang buruk jika tidak dikelola dengan baik.
“Melimpahnya penduduk usia kerja yang tidak memiliki keahlian dan keterampilan dapat meningkatkan pengangguran, kriminalitas, kemiskinan, dan menghambat pertumbuhan ekonomi dan ini disebut bencana demografi,” katanya.
Ia menyebutkan, bahwa bonus demografi yang akan meledak di tahun 2030 ditandai jumlah penduduk usia produktif akan mencapai pada angka 64 persen.
Bagas menyampaikan jika Indonesia tidak siap menghadapi Bonus Demografi ini akan menjadi sebuah Bencana Demografi. Di mana angka pengangguran intelektual akan semakin tinggi.
Ia mengatakan, pekerjaan rumah yang paling utama bersama dilakukan jika ingin Indonesia menjadi negara maju yaitu mengupayakan bertambahnya jumlah pengusaha di Indonesia hingga ideal di atas 10 persen itu.
“Pada kepengurusan Hipmi nanti dan jika terpilih menjadi ketua umum insyaAllah saya akan menciptakan 1 juta pengusaha baru selama 3 tahun ke depan,” katanya.
Sebab, katanya, mengutip data Badan Pusat Statistik bahwa jumlah pengusaha terkini memang masih di kisaran angka 3,47 persen dari total populasi penduduk Indonesia
Sementara Akbar Hiimawan Buchari dalam debat tersebut berharap agar para pengurus HIPMI di seluruh Indonesia bisa berkolaborasi bisnis bersama baik pengusaha dari NTT dengan Sumatera, Kalimantan dengan pengusaha NTT dan sebaliknya sehingga seluruh suplay change bisa diketahui bersama.
Karena itu perlu adanya big data atau pusat data HIPMI sehingga HIPMI, khususnya pengusaha pengusaha daerah bisa mengali potensi di daerah masing-masing.
“Karena itu pusat data yang sudah ada akan kita benahi kembali dan akan kita launching, dengan tujuan agar pengusaha HIPMI bisa terdata,” ujar dia.
Sementara itu calon lainnya yang tampil pada sesi yang sama yakni Anggawira (Ketua Umum Bidang Keuangan dan Perbankan BPP HIPMI) menilai bahwa sektor pariwisata itu tidak hanya pada lokasi wisatanya saja tetapi juga ada pada masyarakatnya juga.
“Karena itu ada program-program pemerintah melalui dana desa yang setiap tahun dikucurkan Rp74 triliun pertahun. Tantangannya adalah bagaimana agar dana desa itu bisa dimanfaatkan untuk sektor-sektor produktif? Nah HIPMI akan hadir di sana,” ujar dia.
HIPMI akan mengambil peran membantu mengembangkan pedesaan dengan program-program pedesaan dengan menggunakan dana desa itu melalui pengembang-pengembangan.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles