30.4 C
Jakarta
Jumat, Desember 9, 2022

4 Rekomendasi Digitalization Task Force untuk Hadapi Tantangan Ekonomi Global

Dalam 15 tahun terakhir, ekonomi digital telah tumbuh 2,5 kali lebih cepat dari PDB Global. Berdasarkan data yang diperoleh dari Bank Dunia, pada tahun 2023 mendatang, diprediksi sebanyak hampir satu miliar orang baru terhubung dengan internet secara global, yang berarti penetrasi internet global mencapai 66 persen.
Selain mempercepat akselerasi ekonomi digital, populasi digital yang tumbuh kian masif telah membuka peluang digital yang lebih luas untuk dieksplorasi. Namun, menurut data yang diperoleh dari Microsoft Manufacturing Report (2019), diproyeksikan ada $19,5 triliun nilai potensial dari aspek infrastruktur digital yang belum tergarap seperti pengembangan Big Data, AI, dan IoT di seluruh dunia.
World Economic Forum juga memperkirakan ekosistem digital dapat membawa dampak positif bagi lingkungan dengan mengurangi emisi karbon global hingga sebanyak 15 persen. Ini menjadi langkah penting yang dapat diambil berbagai sektor industri global, guna memulihkan krisis ekonomi yang disebabkan pandemi.
Meski begitu, langkah ini terhambat dengan adanya kesenjangan digital. Sebab, ekosistem ekonomi digital yang inklusif belum dapat dirasakan masyarakat. Oleh karena itu, dalam forum dialog B20 yang puncak konferensinya berlangsung pada Minggu (13/11), Chair B20 Digitalization Task Force sekaligus Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) Ririek Adriansyah, menyampaikan, rangkuman dari berbagai perspektif mengenai sejumlah faktor yang menyebabkan digitalisasi belum merata.
Secara garis besar, faktor tersebut meliputi tingkat kesiapan yang berbeda, penyediaan infrastruktur dan literasi digital pada tiap kawasan, dukungan yang tidak memadai untuk digitalisasi UMKM, serta isu keamanan siber dan hak dasar di era digital.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Ririek menjelaskan bahwa ada empat poin policy recommendations yang relevan, tepat sasaran, dan dapat ditindaklanjuti. Sehingga dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang efektif, inovatif, inklusif, dan dilakukan secara kolaboratif.
Poin pertama dari rekomendasi solusi tersebut adalah mendorong pemerataan konektivitas secara universal. Langkah ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan digital dengan mengatasi hambatan akses, sehingga masyarakat dapat berpartisipasi dalam ekosistem ekonomi digital dan layanan pemerintah.
“Saat ini, ekonomi digital setara dengan 15,5 persen dari PDB global. Diperkirakan 70 persen dari nilai yang diciptakan dalam perekonomian pada dekade berikutnya akan bergantung pada infrastruktur digital yang mendukung bisnis berbasis digital. Sangat penting untuk mempercepat pengembangan dan adopsi infrastruktur digital untuk membuka pertumbuhan dan membantu dalam membangun ketahanan di seluruh negara,” jelas Ririek.
Adapun poin kedua adalah membangun pondasi bagi ekonomi digital yang berkelanjutan dan tangguh. Ketiga, menanamkan pola pikir dan literasi digital bagi setiap individu atau pelaku UMKM sehingga dapat beradaptasi dengan baik mengikuti arus perkembangan ekonomi digital. Kemudian poin terakhir, ialah memperkuat keamanan siber untuk memberikan perlindungan terbaik bagi pengalaman pengguna.
Untuk dapat menyelesaikan permasalahan tersebut, Telkom sebagai tulang punggung digitalisasi di Indonesia telah melakukan beragam upaya melalui penguatan kapabilitas 3 pilar bisnisnya, yakni infrastruktur digital, platform digital, serta layanan digital. Harapannya, upaya ini tak sekadar jadi daftar rekomendasi, melainkan juga dapat menciptakan dampak nyata bagi masyarakat global.
“Sangat menarik untuk melihat bagaimana digitalisasi mendorong ekonomi ke depan. B20 Indonesia 2022 memberi kita kesempatan untuk merefleksikan tanggung jawab kita. Digitalisasi membuka peluang baru bagi banyak orang. Dengan digitalisasi, Saya yakin akan ada hari esok yang lebih baik,” tutup Ririek.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
5PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles