4 Kesimpulan Tentang Masalah Kualitas Boeing

Boeing telah menghadapi pengawasan dan tekanan yang ketat sejak sebuah panel meledakkan pesawat 737 Max 9 tak lama setelah pesawat tersebut, sebuah penerbangan Alaska Airlines, lepas landas pada 5 Januari. Peristiwa tersebut menimbulkan pertanyaan baru mengenai kualitas pesawat yang diproduksi perusahaan tersebut beberapa tahun setelahnya. dua pesawat Max 8 jatuh, menewaskan hampir 350 orang.

Wawancara dengan lebih dari dua lusin karyawan saat ini dan mantan karyawan mengungkapkan kekhawatiran yang sudah lama ada mengenai kualitas, terutama ketika tekanan meningkat untuk menjaga produksi tetap berjalan di pabrik perusahaan.

Saat ini, Boeing menghadapi tantangan besar dalam upayanya melakukan perubahan yang meningkatkan kualitas produknya dan mendapatkan kembali kredibilitasnya di mata pembuat undang-undang, regulator, maskapai penerbangan, dan masyarakat.

Berikut beberapa kesimpulannya.

Karyawan Boeing saat ini dan mantan karyawannya mengatakan bahwa selama bertahun-tahun kualitas tampaknya menjadi prioritas utama dibandingkan menjaga pesawat tetap bergerak melalui pabrik-pabriknya.

Dalam wawancara, mantan dan karyawan Boeing saat ini menggambarkan praktik-praktik yang mengkhawatirkan, termasuk upaya untuk menghindari prosedur kualitas. Salah satunya adalah “inspector shopping,” di mana para pekerja akan mencari inspektur yang bersedia untuk menandatangani pekerjaan dengan sedikit penolakan.

Boeing mengatakan pihaknya tidak mengizinkan belanja inspektur dan telah meningkatkan jumlah inspektur kualitas untuk pesawat komersial sebesar 20 persen sejak tahun 2019. Inspeksi per pesawat juga meningkat dalam jumlah yang sama selama periode tersebut, kata perusahaan itu.