Saatnya Generasi Muda Beralih dan Kembangkan Inovasi Lokal untuk Hadapi Persaingan Global

Seminar Business Dialogue bertajuk "Inovasinya Indonesia: Mencari Pembuat Masa Depan" di Sekolah Bisnis dan Ekonomi Universitas Prasetiya Mulya, Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (24/10/2017)

YANGMUDA.COM, Jakarta-Pekembangan teknologi dan pesatnya dunia digital membuat produk inovasi kebutuhan sehari-hari dari dalam dan luar negeri bersaing ketat. Anehnya, disadari atau tidak masyarakat secara umum lebih gengsi ketika memakai produk luar negeri meski kualitasnya belum tentu sebagus produk lokal.

Terkait hal itu, staf pengajar bidang Inovasi dan Operations & Decisions Advisor Universitas Prasetiya Mulya, Ade Febransyah dalam seminar Business Dialogue bertajuk “Inovasinya Indonesia: Mencari Pembuat Masa Depan” di Sekolah Bisnis dan Ekonomi Universitas Prasetiya Mulya, Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (24/10/2017) memberikan catatan kecil.

Menurutnya, orang Indonesia lebih senang membeli kebutuhan barang branded buatan luar negeri ketimbang beli produk berkualitas yang notabene buatan lokal.

“Ini menyebabkan orang Indonesia masih beranggapan bahwa produk lokal selalu kalah bersaing dengan produk luar negeri. Padahal, Indonesia terbukti dapat menciptakan produk-produk inovatif berkualitas yang mampu masuk ke pasar global,” kata Ade melalui siaran pers.

Oleh karenanya, lanjut Ade, sudah saatnya Indonesia mendorong terciptanya pengembangkan inovasi-inovasi lokal, yang muncul dan tercipta di Tanah Air. Saatnya generasi muda beralih dan mengembangkan produk lokal.

Globalisasi ekonomi dan liberalisasi di berbagai sektor industri tidak terhindari. Konsekuensinya pelaku bisnis di Tanah Air harus siap menghadapi pemain global di negerinya sendiri. Untuk mampu bertahan salah satu strategi berbasis inovasi.

Para pembicara seminar sepakat diperlukan kepekaan kreatif para penginovasi dengan menyebut yang pertama berangkat dari kebutuhan dan problem nyata di masyarakat.

Menurut Kilala Tilaar, itu artinya sumber inovasi harus digali dari negeri sendiri. Dari perspektif industri kosmetik di Tanah Air misalnya, Indonesia adalah negara dengan biodiversitas plus kekayaan laut terkaya di dunia bila dibandingkan dengan Brasil yang memiliki kekayaan biodiversitas terlengkap sejagat.

“Brasil mungkin yang pertama ya dalam hal biodiversitasnya. Tapi kalau kita mengombinasikan biodiversitas Indonesia dengan kekayaan lautnya, kita ini nomor satu di dunia,” kata Kilala.

Sementara di industri lain, ungkap Pratjojo Dewo, umumnya yang disebut heavy equipment atau alat berat itu digunakan untuk pekerjaan konstruksi dan pertambangan. Namun untuk kebutuhan khusus di Indonesia pada sektor kehutanan dan agro industri, alat-alat berat itu harus dikembangkan sesuai kebutuhan di sini.

“Maka, lahirlah hydraulic excavator yang pertama diproduksi khusus untuk pekerjaan penebangan dan pengangkatan kayu di Indonesia. Di sinilah kita butuh berinovasi sesuai kenyataan di lapangan,” papar Dewo.

Seminar tersebut turut menghadirkan praktisi bisnis, yakni Director of Corporate Innovative and Innovation Martha Tilaar Group, Kilala Tilaar, President Director PT Komatsu Indonesia, Pratjojo Dewo Sridadi, dan Chairman of the Advisory Board for School of Life Sciences and Technology ITB, Artissa Panjaitan. [adc]

LEAVE A REPLY