HMI Jaksel Prihatin dengan Pembatasan Kuota Haji Arab Saudi

Jakarta-Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jakarta Selatan Ziyad Abdul Malik menilai banyak permasalahan pengelolaan haji yang dilakukan oleh Arab Saudi mulai dari ekonomi, politik, sosial, maupun dari segi agama itu sendiri. Salah satunya tentang pembatasan kuota haji yang menurutnya akan membatasi orang untuk melakukan ibadahnya.

“Bahkan di beberapa tempat yang berkonflik dengan pengelola (Arab Saudi) itu dilarang berangkat haji. Kemarin saya lihat di beberapa di antaranya adalah Qatar, Syiria, Yaman, dan juga Iran,” katanya dalam keterangan tertulis, Sabtu (27/1/2018).

Ziyad, mewakili HMI Jaksel menyayangkan sikap Saudi Arabia yang bukan hanya tidak menjaga situs-situs islam di sana, akan tetapi justru menghancurkannya. Hal itu menurutnya terjadi sejak awal-awal berkuasanya Saudi. Makam-makan sahabat dan keluarga nabi banyak yang dihancurkan. Bahkan makam nabi Muhammad sendiri hampir dihilangkan, namun rencana itu berhasil digagalkan oleh kaum muslimin dalam komite hijaz.

Sementara itu Sekjend Muslim Student Organisation (MSO) of India, Syujaat Ali Meng mengungkapkan bahwa 90 persen situs islam di Arab Saudi, nasib keluarga nabi, para Habaib keturunan nabi seperti ‘terusir’ dari kelahirannya dan sekarang justru banyak yang tinggal di luar Arab Saudi seperti di Yaman dan negara-negara lainnya.

Mujtahid Hashem, Sekjen Garda Suci Merah Putih menyoroti politisasi haji untuk kepentingan kekuasaan keluarga kerajaan. Politik kekanak kanakan dan kekalahan aksi militer Saudi di Yaman, kalahnya kelompok ISIS yang didukung Amerika dan Saudi di Syiria dan Irak  menyebabkan Saudi membatasi atau melarang jamaah dari negara tersebut.

“Kebijakan Saudi ini jelas bertentangan dengan spirit Quran, karena Allah telah mengundang manusia untuk melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu,” ujar Mujtahid.

LEAVE A REPLY