Hati-hati Sering Mengkonsumsi Ikan Asin

KANKER nasofaring adalah jenis kanker ganas yang paling sering didapati pada bagian Telinga, Hidung dan Tenggorokan (THT). Di Asia sendiri, kanker nasofaring menempati urutan ke 4 terbanyak pada laki-laki. Sedangkan di Indonesia 6 dari 100.000 penduduk menderita kanker nasofaring.

Menentukan diagnosa kanker nasofaring tidaklah mudah, gejalanya bervariasi, dari mimisan (epistaksis), telinga berdengung (tinnitus), pandangan ganda (diplopia), sulit menelan hingga turunnya berat badan secara drastis.

Ada beberapa hal yang sangat berperan dalam munculnya kanker nasofaring, seperti genetic dan paparan/radiasi lingkungan. Virus Epstein Barr juga telah terbukti sebagai salah satu penyebab utama penyakit ini. Selain itu konsumsi ikan asin diyakini juga memiliki faktor penting dalam terjadinya kanker nasofaring. N-nitrosamine yang terdapat pada ikan asin memiliki hubungan erat antara ikan asin dengan kejadian kanker nasofaring.

Produk-produk olahan ikan, termasuk ikan asin (salted fish) adalah sumber penting protein bagi manusia. Cara memproses ikan dengan pengeringan dan pengasinan hinga saat ini masih dianggap metode yang murah dan efektif untuk menyediakan kebutuhan konsumsi masyarakat terhadap protein dari ikan laut.

Penelitian Ren dan kawan-kawannya di Guangdong China, memberikan hasil yang cukup mengejutkan. Ren menyatakan bahwa risiko terjadinya kanker nasofaring meningkat saat konsumsi ikan asin minimal satu kali sebulan saja. Penelitian ini dikuatkan oleh penelitian Guo dan rekan di China Selatan, dimana Guo menemukan bahwa konsumsi ikan asin tiga kali sebulan meningkatkan risiko kanker nasofaring yang signifikan.

Meskipun masih diperdebatkan, tetap lebih baik mencegah dari pada mengobati. Kanker nasofaring cukup sulit pengobatannya. Sehingga mari kita beralih ke makanan yang lebih sehat.

* dr. Reza Aditya Digambiro, M.Kes, M.Ked (PA), Sp.PA, Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.

LEAVE A REPLY